Chit Chat

all in one 
computer all in one 
computer
all in one 
computer all in one 
computer
all in one 
computer all in one 
computer
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Friday, 6 November 2020

MENEMPUH JALAN RAKYAT OLEH D.N AIDIT (PART 3)

MENEMPUH JALAN RAKYAT

(Pidato kawan D.N Aidit untuk memperingati ulang tahun PKI yang ke-32 – 23 Mei 1952. Diucapkan pada malam tanggal 26 mei di Gedung Pertemuan Umum,  Jakarta)

 




Hadirin yang terhormat,

Pertama-tama atas nama Politbiro CC PKI, saya mengucapkan terimakasih kepada saudara-saudara yang sudah sudi datang dalam melam peringatan ulang tahun PKI yang ke-32 ini.

Kepada wakil kaum buruh, wakil kaum tani, kaum terpelajar dan orang-orang terkemuka yang revolusioner dan progresif, PKI menyampaikan salutnya berhubungan dengan keuletan dan keperwiraan dari golongan-golongan rakyat yang saudara-suadara wakili dalam perjuangan untuk mencapai Indonesia baru, untuk mencapai kemerdekaan nasional yang sejati, demokrasi dan perdamaian abadi.

Sebagaimana saudara-saudara sudah mengetahui pada tanggal 23 Mei tahun ini PKI berumur genap 32 tahun. Bagi dunia kepartaian di tanah air kita ini, umur 32 tahun termasuk umur yang tinggi. Banyak partai-partai didirikan, tetapi ia hanya berumur beberapa tahun dan kemudian lenyap. Jadi teranglah, bahwa untuk mencapai usia 32 tahun, PKI mesti mempunyai dasar yang sangat kuat dan keuletan yang luar biasa.








#PKI #Aidit #Indonesia

Saturday, 24 October 2020

MENEMPUH JALAN RAKYAT OLEH D.N AIDIT (PART 1)

 MENEMPUH JALAN RAKYAT

OLEH D.N AIDIT



Buku yang berjudul menempuh jalan rakyat ini merupakan sebuah pidato yang dilakukan oleh D.N Aidit dalam memperingati ulang tahun PKI yang ke 32 tahun. Pada saat itu ulang tahun PKI jatuh pada tanggal 23 Mei 1952. Pidato ini diucapkan D.N Aidit pada malam hari. Beliau ucapkan pada tanggal 26 Mei di Gedung Pertemuan Umum, Jakarta.

Buku Ini saya ceritakan kembali sesuai dengan tata bahasa Indonesia pada saat ini. Tidak ada yang saya lebih kan ataupun saya kurangkan. Cover buku atau sampul depan buku ini bercorak kuning. Dengan tulisan aslinya berjudul “Menempuh Djalan Rakjat” oleh D.N AIDIT.

Buku ini berjumlah 27 halaman.  Halaman pertama berupa sampul buku yang berwarna kuning. Halaman kedua berupa  sampul buku yang tercetak hitam dan putih. Pada halaman ketiga terdapat foto D.N Aidit sebagai penggerak PKI dieranya.

Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Pembaruan Jakarta. Tulisan asli tertera pada buku ini yaitu “Jajasan Pembaruan Djakarta”. Buku ini merupakan cetakan kedua. Dengan Terdapat foto D.N Aidit pada lembar ketiganya. Buku ini pernah dijual pada masanya seharga Rp.1.50 saja. Yayasan Pembaruan Jakarta saat itu beralamat di Jalan Perunggu, Galur Jakarta.

Pada lembar keempat. Terdapat keterangan penerbit. Penerbit  buku Yayasan Pembaruan  Jakarta mencoba memberikan keterangan tentang buku yang dicetak kedua kali ini. Keterangan Penerbit buku tersebut sebagai berikut.

Penerbitan “Menempuh Jalan Rakyat” ini adalah cetakan yang ke II, untuk memenuhi permintaan yang selalu bertambah banyak. Didalam Cetakan ke-II ini, oleh penulisnya sendiri telah diadakan perubahan kecil-kecil disana-sini. Perubahan-perubahan ini sama sekali tidak membawa perubahan ini, karena hanya berupa perubahan-perubahan susunan kalimat supaya lebih jelas dan mudah dipahamkan.

Jika ditulis dalam bentuk asli pada buku tersebut seperti ini:

KETERANGAN PENERBIT

 

         Penerbitan “Menempuh Djalan Rakjat” ini adalah tjetakan jang ke-II untuk memenuhi permintaan jang selalu bertambah banjak. Didalam tjetakan ke-II ini, oleh penulisnja sendiri telah diadakan perubahan ketjil disana-sini. Perubahan-perubahan ini sama-seklai tidak membawa perubahan ini, karena hanja berupa perubahan-perubahan susunan kalimat supaja lebih jelas dan mudah difahamkan.

 

                                                                                                                                             Penerbit.

Djakarta, Agustus 1952

 

4

Nomor 4 pada bagian bawah. Nomor tersebut menandakan berada pada halaman 4. Bisa dikatakan sebagai terdapat pada lembar ke-4.


 

Untuk lebih jelasnya lagi silahkan ikuti blog ini di www.lembarkerjasiswa123.blogspot.com







#PKI #Aidit #Jakarta #Indonesia


Thursday, 22 October 2020

TAN MALAKA, JALAN SUNYI TAMU DARI BAYAH

TAN MALAKA

JALAN SUNYI TAMU DARI BAYAH




Ia memperkenalkan dirinya sebagai Ilyah Hussein. Datang dari Bayah, Banten Selatan, pria paruh baya itu bertamu ke rumah Sukarni di Jalan Minangkabau, Jakarta, awal Juni 1945. Disana ada Chaerul Saleh, B.M Diah, Anwar, dan Harsono Tjokroaminoto. tamu jauh itu hendak menghadiri kongres pemuda di Jakarta.

Memakai baju kaus, celana pendek hitam, dan topi perkebunan ditenteng di tangan, tamu itu disambut tuan rumah. Setelah sedikit basa-basi, Hussein menyampaikan analisisnya tentang kemerdekaan dan politik saat itu. Situasi memang lagi genting. Penjajah Jepang sudah di tubir jurang.

Ulasan Hussein tentang proklamasi membuat Sukarni terpukau. Pikiran Hussein sama dengan tulisan-tulisan Tan Malaka yang selama ini dipelajari Sukarni. Setelah mendengar analisis Hussein, Sukarni makin mantap: proklamasi harus segera diumumkan.

Sejarah mencatat, Hussein adalah Ibrahim Sutan Datuk Tan Malaka yang tengah menyamar. Sejak awal Sukarni curiga, tamunya tak mungkin hanya orang biasa-meski ia tak berani bertanya. "Ia heran, bagaimana mungkin orang sekaliber Hussein hidup diwilayah terpencil, "kata sejarawan Belanda Harry A. Poeze.

Karni malah waswas. "Ia takut kalau Hussein mata-mata Jepang, "Kata Anwar Bey, bekas wartawan Antara dan koresponden Buletin Murba. Kekhawatiran yang campur aduk memaksa Sukarni memindahkan rapat ke rumah Maruto Nitimiharjo di Jalan Bogor lama-sekarang jalan Saharjo Jakarta Selatan. Sebelum pergi, Sukarni meminta tamunya menginap satu malam. Hussein tidur dikamar belakang.

Pada saat rapat, analisis Hussein mempengaruhi pikiran Sukarni. Ide-ide Hussein dilontarkannya dalam rapat. "Sukarni mendesak proklamasi jangan ditunda, " kata Adam Malik. Para Pemuda setuju.

Sepulang rapat, Sukarni masih pensaran pada Hussein. Tapi lagi-lgi ia ragu bertanya. Sukarni baru bertemu besok paginya ketika tamunya mau pulang. "Ia berpesan gara Hussein mempersiapkan pemuda Banten menyongsong proklamasi,"Kata Anwar Bey.

Kesaksian itu terungkap pada saat Sukarni memberikan sambutan dalam acara Sewindu Hilangnya Tan Malaka di Restoran Naga Mas, Bandung, Februari 1957. Anwar Bey malam itu hadir di sana.

Dari pertemuan itu, Tan sendiri menafsirkan, Chaerul dan Sukarni mengenal ide-ide politiknya. Tapi ia belum berani membuka jati diri. "Saya masih menunggu kesempatan yang lebih tepat. "katanya dalam memoar Dari Penjara Ke Penjara.

Ia lalu pulang ke Bayah, kembali bekerja sebagai juru ketik. Nama Hussein tetap digunakan.  Saat itu usianya 48 tahun.

Hussein kembali muncul di Jakarta pada 6 Agustus 1945. Ia membawa tas. Isinya celana pendek selutut, kemeja, dan kaus lengan panjang kumal. Kali ini yang dituju rumah B.M Diah, Ketua Angkatan Baru, yang juga redaktur koran Asia Raya, satu-satunya koran ynag terbit di Jakarta.

Utusan Bayah itu menanyakan kabar mutakhir situasi perang. Setelah satu jam Diah memberikan infomasi, Hussein menyatakan pendapatnya. "Pimpinan revolusi kemerdekaan harus di tangan pemuda, "katanya.

Tapi hubungan Hussein dengan Diah berlangsung singkat. Besoknya Diah ditangkap Jepang gara-gara menuntut kemerdekaan dan menentang sikap lunak Soekarno-Hatta. Tahu Diah ditangkap, Hussein pulang ke Bayah.

Disana ia terus bergerak. Tiga hari kemudian dia terlibat rapat rahasia dengan para pemuda Banten di Rangkasbitung. Pertemuan satu setengah jam itu di gelar di rumah M. Tachril, pegawai Gemeenschappelijk Electriciteitsbedrjf Bandoengen Omstreken-Gabungan Perusahaan Listrik Bandung dan Sekitarnya.

Di sini Hussein mengobarkan pidato yang menggelora "Kita bukan kolaborator!" katanya. "Kemerdekaan harus di rebut kaum pemuda, jangan sebagai hadiah". Kekalahan Jepang, menurut dia, tinggal menunggu waktu.

Pidato itu dilukiskan Poeze dalam bukunya Verguisd en Vergeten Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. "Sebagai rakyat Banten dan pemuda yang telah siap merdeka, kami bersumpah mewujudkan proklamasi itu, "kata Hussein di ujung pidatonya.

Bila Soekarno-Hatta tidak mau menandatangani, Hussein memberikan jawaban tegas: "Saya sanggup menandatanganinya, asal seluruh rakyat dan bangsa Indonesia menyetujui dan mendukung saya".

Hussein di ututs kembali ke Jakarta. Ia diminta menjalin kontak dengan Sukarni dan Chaerul Shaleh. Peserta rapat mengantarkannya ke Stasiun Saketi, Pandeglang. Hussein naik kereta ke Jakarta.


***


Situasi Jakarta tidak menentu. Kebenaran dan desas-desus berkelindan satu sama lain. Kempetai, polisi militer Jepang mengintai di mana-mana. Para pemuda bergerak di bawah tanah, bersembunyi dari satu rumah ke rumah lain. Usaha Tan Malaka menjalin kontak dengan pemuda tak kesampaian.

Kesulitan Tan bertambah karena kehadirannya tempo hari di rumah Sukarni menyebar dan menjadi pergunjingan. Para pemuda bingung siapa sebenarnya Ilyas Hussein. Karena itu para pemuda jaga jarak bila Hussein muncul.

Peluang Tan menjalin kontak kian teruk karena sikap hati-hatinya yang berlebihan. Sebagai bekas orang buangan dan lama dalam hidup pelarian, Hussein merasa di bawah bayang-bayang penangkapan.

Tan akhirnya berhasil menemui Sukarni di rumahnya pada tanggal 14 Agustus sore. Ia mengusulkan agar massa pemuda dikerahkan. Tapi Sukarni sibuk. Di rumah itu banyak orang keluar-masuk. Banyak pula hal yang disembunyikannya, termasuk berita takluknya Jepang.

Ia juga khawatir rumahnya digerebek Kempetai. Itu sebabnya, Sukarni pergi meninggalkan Hussein. Seperti sebelumnya, ia diminta menunggu di kamar belakang. Kali ini bersama dua orang yang tak dikenal.

Salah satunya Khalid Rasyidi, aktivis oeuda menteng 31. Menurut Khalid, Hussein sempat bertanya di mana tempat penyimpanan senjata jepang. "Ia menganjurkan perampasan senjata dalam rangka perjuangan kemerdekaan", kata Khalid dalam ceramah di Gedung Kebangkitan Nasional, Agustus 1978.

Khalid juga yakin, Sukarni sudah tahu bahwa Hussein tak lain Tan Malaka. Soalnya, sebelum Khalid diminta menemui utusan Banten itu, Sukarni agak lama menunjukkan orang-orang pergerakan. "Diantaranya foto Tan Malaka waktu masih muda, "kata Khalid Poeze menyangsikan hal itu. Menurut dia, Sukarni hanya menduga-duga. 

Malam itu Sukarni sempat pulang. Tapi setelah itu menghilang. Hussein besoknya berusaha menemui Chaerul Saleh di jalan Pegangsaan Barat 30, tapi Chaerul tidak ada dirumah karena di sepanjang jalan santer terdengar kabar Jepang menyerah perang, Hussein kembali ke rumah Sukarni. Tapi usahanya sia-sia.

Hussein tidak tahu, Sukarni dan Chaerul akan menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Aksi itu dilakukan karena Soekarno-Hatta ngotot proklamasi dilakukan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sedangkan pemuda ingin merdeka tanpa campur tangan Jepang. Setelah berdebat di Rengasdengklok, Soekarno-Hatta bersedia meneken proklamasi. Teks proklamasi disiapkan di rumah Laksamana Maeda. 

Naskah itu besoknya dibacakan di perkarangan rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56. Upacara berlangsung singkat. Penguasa Militer Jepang melarang berita proklamasi meluas di radio dan surat kabar. Itu sebabnya, Tan tidak tahu ada proklamasi. Ia tahu setelah orang ramai membicarakannya di jalan-jalan.

Terbatasnya peran Tan itu, kata Poeze, sungguh ironis. Padahal Tan orang Indonesia pertama yang menggagas konsep republik dalam buku Naar de Republik Indonesia, yang ditulis pada 1925. Buku kecil ini kemudian menjadi pegangan politik tokoh pergerakan, termasuk Soekarno.

Dalam buku Riwayat Proklamasi Agustus 1945, Adam Malik melukskan peristiwa itu sebagai "kepedihan riwayat". Sukarni bertahun-tahun membaca buku politik Tan. Tapi pada saat itu ia membutuhkan pikiran dari orang sekaliber Tan, Sukarni sungkan bertanya siapa Hussein sesungguhnya. "Ia malah membiarkannya pergi jalan kaki, lepas dari pandangan mata", kata Adam Malik.

Tan juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Rupanya sejarah proklamasi 17 Agustus tidak mengizinkan saya campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah tidak mempedulikan penjelasan seorang manusia atau segolongan manusia.

Setelah proklamasi, Tan berusaha menemui pemuda. Tapi mereka terus bergerak di bawah tanah. Pada 25 Agustus Tan akhirnya datang ke rumah Ahmad Soebardjo di Jalan Cikini Raya 82. Keduanya pernah bertemu di Belanda apada tahun 1919. "Pembantu kami mengatakan ada tamu ingin berjumpa", kata Soebardjo. Tamu itu duduk di pojok ruangan.

Soebardjo kaget. "Wah, kau Tan Malaka", katanya. "Saya kira sudah mati". Tan menjawab sambil tertawa. "alang-alang tak akan musnah kalau tidak dicabut dengan akar-akarnya". Setelah sempat bersenda-gurau, Soebardjo menawari Tan tinggal di paviliun rumahnya.

Sejak itu Tan diperkenalkan kepada beberapa tokoh seperti Iwa Koesoema Soemantri, Gatot Taroenamihardjo, Boentaran Martoatmojo. Ia juga dipertemukan Nishijima Shigetada, Asisten Laksamana Maeda. Di didepan Nishijima, ia bicara tentang revolusi, struktur politk, gerakan massa, hingga propaganda.

Nishijia terheran-heran. "Bagaimana mungkin orang yang tampak seperti petani ini bisa menganalisis segala-galanya dengan begitu tajam", katanya. Setelah lebih dari dua jam berbincang, Soebardjo menjelaskan bahwa kawannya ini tak lai Tan Malaka. Nishijima terkejut. Ia bangkit lalu menjabat tangan lebih erat.

Kepada Tamunya, Soebardjo meminta keberadaan Tan dirahasiakan. Sepekan menetap di rumah Soebardjo, lewat perantara Nishijima, Tan pindah ke rumah pegawai angkatan laut Jepang di jalan Theresia. Ia sempat ke Banten membangun jaringan gerilya, lalu balik ke Jakarta. Pada pekan kedua September, ia pindah ke Kampung Cikampek, 18 kilometer sebelah barat Bogor. Sejak itu bolak-balik ke Jakarta.

Di Jakarta, kaum pemuda terus bergerak. mereka melihat pemerintah tidak bekerja mengisi kemerdekaan meski kabinet telah dibentuk. "Mereka cuma kumpul-kumpul di gedung Pegangsaan', kata Adam malik. "Seperti tidak ada rencana".

itu sebabnya, sebagian pemuda mengusulkan demostrasi. Tapi sebagian lain ingin membentuk Palang Merah dan mengurus tawanan Perang. pemuda yangberkumpul di Jalan Prapatan 10, sekarang jalan Kwitang, terbelah.

Pemuda prodemonstrasi meninggalkan Jalan Prapatan menuju menteng 31. "Ini kesempatan kita mempraktekkan Massa Actie', kata Sukarni mengutip buku Tan yang menjadi pegangan pemuda. Setelah itu mereka membentuk Komite van Actie. Komite ini mengambil sarana transportasi dan mengibarkan bendera Merah-Putih, dimana-mana.

Karena kabinet belum ada kegiatan, Soebarjo-saat itu sudah Menteri Luar Negeri-meminta nasihat Tan yanglalu mengusulkan agar propaganda dilakukan lewat semboyan-semboyan. "Tan ikut mengusulkan kata-katanya", Hardidjojo Nitimihardjo, putra Maruto. Semboyan itu ditulis pemuda di tembok-ditembok, mobil, dan kereta api hingga tersebebar ke luar Jakarta, dibuat dalam bahasa Indoensia dan Inggris agar menarik perhatan dunia.

Sejak itu Soekarno mendengar kemunculan Tan. Ia meminta Sayuti Melik mencarinya. Dua tokoh itu akhirnya diam-diam bertemu dua kali pada awal September 1945. Pertemuan itu menjadi rahim lahirnya testamen politik. Isinya: "Bila Soekarno-Hatta tidak berdaya lagi, pimpinan perjuangan akan diteruskan oleh Tan, Iwa Koesoema, Sjahrir, dan Wongsonegoro".

Kasak-kusuk kehadiran Tan makin santer. Para pemuda membicarakannya di Menteng 31. Tan saat itu tinggal dirumah Pak Karim, tukang jahit di Bogor. Sukarni dan Adam Malik mencarinya ke sana. Mereka berhasil bertemu, tapi ragu identitas Tan. "Apalagi saat itu banyak muncul Tan Malaka palsu", kata hadidjojo.

Untuk memastikan, para pemuda membawa Soediro-kenalan Tan di Semarang pada 1992-beberapa hari kemudian Sesudah itu mereka membawa guru Halim, teman sekolah tan di Bukittinggi. Tan Juga di cecar soal Massa Actie karena banyak Tan Malaka palsu tidak bisa menjelaskan isi buku tersebut.

Maruto behkan menyrankan agar pemuda tidak begitu saja mempercayai Tan. Ia rupanya mendengar Tan sudah bertemu Soekarno. Tapi setelah mendengar kata-kata Tan kaum pemuda yakin tokoh legendaris itu anti-fasis.

Tan juga sepakat dengan aksi pemuda Menteng 31. "Ia mengusulkan demonstrasi yang lebih besar', kata Hadidjojo. Demontrasi digelar untuk mnegukur seberapa kuat rakyat mendukung proklamasi. Ide ini melecut pemuda menggelar rapat akbar di lapangan Ikada. "Tan berada di balik layar". Kata Poeze.

pemuda mendapat kuliah dari Tan tentang perjuangan rovolusioner. Persinggungan pemuda dengan Tan berlangsung anatara 8 dan 15 September 1945. Sekelompok pemuda, antara lain Abidin Effendi, Hamzah Tuppu, Pandu kartawiguna, dan Syamsu Harya Udaya, diperkenalkan kepada Tan. Sukarni lalu mengirim Hamzah, Syamsu, dan Abidin ke Surabaya untuk mengoganisasi para pelaut.

Di Jakarta, kelompok pemuda menggelar rapat. mereka menyiapkan demonstrasi pada 17 September-tepat sebulan setelah proklamasi. Tapi unjuk rasa diundur dua hari. Ada anekdot, tanggal itu dipilih karena para pemuda jengkel dimaki-maki Bung Karno bulan sebelumnya. "Bung Karno marah kepada pemuda karena pemuda menggelar pawai di Taman Matraman pakai obor dua hari setelah proklamasi', kata Hadidjodjo mengutip Maruto, ayahnya.

Pamflet aksi disebar dan ditempel di mana-mana, Sukarni keluar-masuk kampung, menemui kepala desa, tokoh masyarakat, pemuda, hingga kiai, agar datang ke Lapangan Ikada. Mahasiswa meminta Soekarno hadir juga. Tapie presiden pertama itu menolak.

Pada hari yang ditentukan, massa berbondong-bondong datang. Senapan mesin Jepang dibidikkan ke arah kerumunan. Tapi gelombang massa terus berdatangan. Jumlahnya diperkirakan 200 ribu. Di bawah terik, mereka menunggu berjam-jam. Salah satu yang hadir almarhum Pramoedya  Ananda Toer. "Itulah pertama kali saya saksikan orang Indonesia tidak takut lagi pada Dai Nippon", kata Pram, saat itu berusia 20 tahun.

Sementra sidang kabinet pagi itu terbelah. Sebagian menteri setuju hadir di Ikada. Sedangkan yang menolak takut ada pertumpahan darah. Rapat berjalan alot. Pukul empat asore, Soekarno memutuskan datang menentramkan rakyat yang sudah menunggu berjam-jam. "Saya tidak akan memaksa. Menteri yang mau tinggal dirumah silahkan", Katanya.

Rombongan Soekarno-Hatta pergi menuju Ikada. Poeze menduga, Tan Malaka ikut dalam rombongan. "Ia satu-satunya yang memakai topi, jalan berdampingan dengan Soekarno menuju podium", kata Poeze.

Di mimbar Soekarno berpidato lima menit suaranya lunak. Ia meminta rakyat tetap tenang dan percaya pada pemerintah, yang akan mempertahankan proklamasi. Massa diminta pulang. Setelah itu, barisan bubar meninggalkan lapangan.

Hasil demonstrasi itu menyesakkan Tan. Pidato itu, katanya, tidak menggemborkan semangat berjuang. "Tidak mencerminkan massa aksi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.



Sumber : 

Buku Tan Malaka Bapak Republik Yang dilupakan Seri buku saku tempo Hal. 14 - 26






















#Soekarno #Hatta #Proklamasi #RI #Indonesia #Sukarni #Jepang #Hussein #Tan #Sjahrir #Wongsonegoro #Hadidjojo #Menteng #Belanda #Malaka #sejarah #Soebarjo #Inggris #demonstrasi #matraman #Jakarta #Soerabaya #PKI #Jakarta


Wednesday, 21 October 2020

TAN MALAKA, DIA YANG MAHIR DALAM REVOLUSI

 TAN MALAKA

DIA YANG MAHIR DALAM REVOLUSI


Hatinya terlalu teguh untuk berkompromi. Maka ia berburu polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika, dan Jepang di 11 negara demi cita-cita utama; kemerdekaan Indonesia

Ia, Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya "Bapak Republik Indonesia". Soekarno menyebutnya "seorang yang mahir dalam revolusi'. Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.

Ia seorang yag telah melukis revolusi Indonesia dengan bergelora.Namanya Tan Malaka, atau Ibrahim Datuk Tan Malaka, dan kini mungkin dua-tiga generasi melupakan sosoknya yang lengkap ini: kaya gagasan filosofis, tapi lincah berorganisasi.

 Orde baru telah melebur hitam peran sejarahnya. Tapi harus diakui, di mata sebagian anak muda, Tan mempunyai daya tarik yang tak tertahankan. Sewaktu Soeharto berkuasa, menggali pemikiran serta langkah-langkah politik Tan sama seperti membaca novel-novel Pramoedya Ananda Toer. Buku-bukunya disebarluaskan lewat jaringan klandestin. Diskusi yang membahas alam pikirannya dilangsungkan secara berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI)., sosoknya sering kali dihubungkan dengan PKI: musuh abadi Orde Baru.

Perlakuan Serupa menimpa Tan di Masa Soekarno berkuasa. Soekarno, melalui kabinet Sjahrir, memenjarakan Tan selama dua setengah tahun, tanpa pengadilan. Perseteruannya dengan para pemimpin pucuk PKI membuat ia terlempar dari lingkaran kekuasaan. Ketika PKI akrab dengan kekuasaan, Bung Karno memilih Muso-orang yang telah bersumpah menggantung Tan karena pertikaian internal partai-ketimbang Tan. Sedangkan D.N Aidit memburu testamen politik Soekarno kepada Tan. Surat wasiat itu berisi penyerahan kekuasaan kepemimpinan kepada empat nama-salah satunya Tan- apabila Soekarno ditangkap. Akhirnya Sokarno sendiri membakar testamen tersebut. Testamen itu berbunyi: "..Jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusi Tan Malaka.

Politik memang kemudian menenggelamkannya. Di Bukit Tinggi, dikampung halamannya, Nama Tan Cuma di dengar sayup-sayup. Ketika harry Albert Poeze, sejarawan belanda yang meneliti Tan sejak tahun 1972 mendatangi Sekolah Menengah Atas 2 Bukit Tinggi, guru-guru sekolah itu terkejut. Sebagian guru tak tahu Tan Pernah mengenya pendidkan di sekolah yang dulu bernama Kweeschool (sekolah Guru) itu pada 1907-1913. Sebagian lain justru tahu dari murid yang rajin berselancar di Ineternet. Mereka masih tak yakin, sampai kemudian Poeze datang. Poeze pun menemukan prasasti Engku Nawawi Sutan Makmur, guru Tan, tersembunyi dibalik lemari sekolah.

Disepanjang hidupnya, Tan telah menempuh pelbagai royan: dari masa akhir Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik hingga Perang Dunia II. Di kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandan Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 ini merupakan tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta sebagai pleidoi didepan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).

Buku Naar De Republik dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemudaradikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Waktu itu Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung. Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantara menyimpan buku dikutip Bung Karno dalam Pledoinya, Indonesia Menggugat.

W.R Supratman pun telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukkan kalimat "Indonesia tanah tumpah darahku" kedalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari massa actie, pada bab bertajuk "Khayal Seorang Revolusioner". Disitu Tan antara lain menulis, "Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri .... kewajiban seorang yang tahu kewajiban putra tumpah darahnya.

Di seputar Proklamasi, tan menorehkan perannya yang penting. Ia menggerakkan para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan IKADA (Kini Kawasan Monas), 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan "masih sebatas catatan di atas kertas". Tan menulis aksi itu " uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan". Stelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan gencar.

Kehadiran Tan di Lapangan Ikada menjadi cerita menarik tersendiri. Poeze bertahun-tahun mencari bukti kehadiran Tan itu. Sahabat-sahabat Tan, seperti Sayuti Melik, bekas menteri Luar negeri Ahmad Soebardjo, dan mantan Wakil Presiden Adam Malik, telah memberikan kesaksian. tapi kesaksian itu harus didukung bukti visual. Dokumen foto peristiwa itu tak banyak. Memang ada rekaman film dari Berita Film Indonesia. Namun mencari seorang Tan di tengah kerumunan sekitar 200 ribu orang dari pelbagai daerah bukan perkara mudah.

Poeze mengambil jalan berputar. ia menghimpun semua ciri Khas Tan dengan mencari dokumen di delapan dari 11 negara yang pernah didatangi Tan, misalnya selalu memakai topi perkebunan sejak melarikan diri di Filipina (1925-1927). Ia cuma membawa paling banyak dua setel pakai. Dan sejak keterlibatan dalam gerakan buruh di Bayah, Banten pada 1940-an. Ia selalu memakai celana selutut. Ia juga selalu duduk menghadap jendela setiap kali berkunjung kesebuah rumah. Ini Untuk mengantisipasi jika polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika tiba-tiba datang menggerebek. Ia memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer-dua kali jarak yang ditempuh Che Guevara di Amerika Latin.

Satu lagi bukti yang mesti dicari: berapa tinggi Tan sebenarnya? di Buku Dari Penjara ke Penjara II. Tan bercerita ia dipotret setelah cukur rambut dalam tahanan di Hongkong. "Sekonyong-konyong tiga orang memegang kuat tangan saya dan memegang jempol saya buat diambil kuat tangan saya dan memegang Jempol saya buat diambil capnya. Semua dilakukan serobotan,"ucap Tan. Dari buku ini Poeze pun mencari dokumen tinggi Tan dari arsip polisi Inggris yang menahan Tan di Hongkong. Eureka! Tinggi Tan ternyata 165 centimeter. Lebih pendek daripada Soekarno (172 centimeter). dari ciri-ciri itu, Poeze menemukan foto Tan terbukti berada dilapangan tiu dan menggerakkan pemuda.

Tan tak pernah menyerah. Mungkin itulah yang membuatnya sangat sangat kecewa dengan Soekarno-Hatta yang memilih berunding dan kemudian ditangkap Belanda. Menurut Poeze, tan berkukuh, sebagai pemimpin revolusi Soekarno semestinya mengedepankan perlawanan gerilya ketimbang menyerah. Baginya, perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan Indonesia 100 persen dari Belanda dan Sekutu. tanpa itu nonsens.

Sebelum melawan Soekarno, Tan pernah melawan dalam kongres Komunis Internasional di Moskow pada 1922. Ia mnegungkapkan gerakan komunis di Indonesia tak akan berhasil mengusir kolonialisme jika tak bekerja sama dengan Pan-Islamisme. Ia juga menolak rencana kelompok Prambanan menggelar pemberontakan PKI 1926/1927. Revolusi, kata Tan, tak dirancang berdasarkan logistik belaka, apalagi dengan bantuan dari luar seperti Rusia, tapi pada kekuatan massa. Saat itu otot revolusi belum terbangun baik. Postur kekuatan komunis masih ringkih. "Revolusi bukanlah sesuatu yang dikarang dalam otak," tulis Tan. Singkat kata, rencana pemberontakan itu tak matang.

Penolakan ini tak urung membuat Tan disingkirkan para pemimpin parta. Tapi, bagi Tan, partai bukanlah segala-galanya. jauh lebih penting dari itu: kemerdekaan nasional Indonesia. Dari sini kita bisa membaca watak dan orientasi penulis Madilog ini. Ia seorang Marxis, tapi sekaligus nasional. Ia seorang komunis, tapi kata Tan, "Di depan Tuhan saya seorang muslim" (siapa sangka ia hafal Al-Quran sewaktu muda). Perhatian utamanya adalah menutup buku kolonialisme selama-lamanya.

***


hal. 1-8 buku Tan Malaka Bapak Republik Yang Dilupakan (Tempo seri saku)
















#Tan #Malaka #Indonesia #PKI #Belanda #Jepang #NKRI  #Soekarno #Hatta #Sjahrir #Soeharto #Belanda #Inggris #Amerika #Jepang #Republik #Revolusi #Aidit #Banten #Komunis #Karno #Quran #Marxis #madilog #Rusia #Filipina #IKADA #Monas #Supratman #kemerdekaan #madilog

Saturday, 10 October 2020

PITUNG ITU SOLIHUN?

 PITUNG ITU SOLIHUN?



Pitung merupakan tokoh Betawi. Cerita tentang pitung banyak sekali kontroversinya. Ada yang bilang pitung merampok. Ada yang bilang pitung itu jawara. Ada yang bilang pitung terpelajar. Ada yang bilang sosok pitung itu ada 7 orang. Ada yang bilang pitung itu jagoan.

Jadikah siapakah pitung itu? Untuk membicarakan pitung. Sudah seharusnya cerita pitung itu memiliki rujuan yang dapat dipertanggung jawabkan. Rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan itu hanya ada satu. Rujukan tersebut berasal dari mahred Vantil. Mahred Vantil berhasil menemukan korespondensi pitng dengan pengurus Masjid Al-atik Bukit Duri. Hal itu ditemukan saat pitung masih di penjara Bukit Duri.

Korespondensi itu menemukan fakta bahwa nama pitung itu adalah Solihun. Pitung itu adalah julukan yang bernama Solihun. Pada abad 19 terdapat nama Solihun itu cuku unik dan jarang. Dan pada abad 19 nama orang dibetawi pada saat itu biasanya nama yang mudah diucapkan. Contohnya seperti nama engkik.

Pitung itu adalah julukan. Namanya yang sebenarnya adalah Sholihun. Jika dilihat sumber koran-koran Belanda memiliki banyak julukan. Ada yang menyebutnya julukannya pitung. Ada yang menyebutnya betung. Betung itu memiliki arti bamboo hitam. Dijuluki betung karna postur pitung yang kekar seperti bamboo betung (bamboo hitam).

Sebenarnya asli manakah pitung itu? Sampai saat ini tidak diketahui pasti asal muasal pitung. Tapi dapat dibuat perkiraan. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1886. Persitiwa itu terjadi di Jembatan. Sekarang jembatan itu diberi nama Jembatan Si Pitung lokasinya berada di jalan Bandengan. Si pitung menyeberang jembatan yang hanya bisa masuk satu badan. Jembatan satu badan.

Menjadi adat dimanapun juga jika ada yang masuk jembatan satu badan yang lain pun jangan masuk ke jembatan satu badan dari arah berlawanan jangan masuk. Pitung masuk pertama kali di Jembatan satu badan. Lalu Ada orang Cina (bahasa resminya adalah orang dari warga keturunan tionghoa) juga yang memaksa masuk jembatan satu badan tersebut.

Orang Cina (keturunan Tionghoa) tidak mau mengalah. Saat ingin menyeberang di Jembatan satu badan itu. Malah orang Cina (keturunan Tionghoa) itu menantang si Pitung dengan keahlian mistik. Orang Cina tersebut mengeluarkan keahlian mistiknya. Orang Cina (keturunan Tionghoa) memutarkan pantatnya dengan kekuatan mistiknya memutarkan pantatnya kedepan.

Melihat ulah orang Cina (keturunan Tionhoa) itu mengeluarkan ilmunya. Pitung sontak pun marah. Pitung keluarkan goloknya. Lalu orang cina (keturunan Tiong Hoa) mati. Tidak ada saksi yang melihat kejadian itu. Pitung menghilang.

Lalu si pitung tertangkap dan dibawa di bui Glodok. Bui Glodok adalah nama dari penjara  Belanda di Glodok. Penjara Belanda di Glodok saat ini adalah Harco di Glodok.

Kemudian pitung di sidang. Pada persidangan itu pitung tidak ada yang mau menjadi saksi pembunuhan pitung kepada orang Cina. Sehingga pitung diberi hukuman badan saja selama delapan tahun. Selanjutnya pitung dibuang ke bui master didaerah yang bernama Bukit Duri. Lalu pitung melakukan korespondensi dengan pengurus masjid Al-Atik melakukan surat menyurat.

Pitung bisa disimpulkan merupakan seorang yang berasal dari kampung Gusti. Kampung Gusti merupakan kampung orang-orang yang profesinya menulis. Kampung Gusti merupakan kampung yang tidak jauh dari terjadinya pembunuhan orang Cina (keturunan Tiong Hoa) di Jembatan sebadan Bandengan saat itu.

Pitung diberi kabar bahwa saudaranya JI’I mati dibunuh oleh demang Maester Kornelis Kebayoran. Demang tersebut membunuh Ji’I dengan motif mencari muka. Karna demang tersebut tahu bahwa Ji’I adalah saudaranya si Pitung. Pitung tahu kabar mati saudaranya itu dari pengurus masjid Al Atik melalui surat menyurat.

Ji’I saudara pitung ini merupakan seorang pedagang. Ji’I mati oleh demang Maester kornelis. Mendapatkan informasi bahwa saudaranya Ji’I mati. Pitung melarikan diri dari penjara. Pitung mencari keberadaan demang Maester Kornelis. Demang maester kornelis ditemukan oleh Pitung. Seihingga pitung menembak demang maester kornelis dengan beceng (senjata pitung berupa pistol namanya sibongkok).

Pitung menjadi buron. Beliau hidup berpindah-pindah. Dari kejadian itu membuat resah orang Belanda. Sehingga membuat orang-orang Belanda menjadi ketakutan. Karna tersiar informasi yang bermacam-macam tentang si Pitung.

Sampai kepala (schaut) Polisi Heyne Belanda saat itu memakai dukun. Mengkibatkan kemarahan penasehat Bumi Putra dari Belanda. Penasehat  bumi Putra itu mengatakan tidak ada orang Belanda main dukun.  Penasehat Bumi Putra ini menyurati Ratu Belanda bahwa yang dilakukan schaut Heyne ini tidak benar.

Pitung ditemukan oleh polisi Belanda. Belanda menabur para intel nya untuk mencari pitung. Diketahui pitung sering melintas Kalimalang menuju Pondok Kopi. Pitung dijegat oleh Schout Heyne. Selama pertemuan schout Heyne dengan Pitung yang dijegat. Pada saat menjegat pitung juga sudah membawa mobil Ambulance.

Schout Heyne tidak melupakan pesan dukun kepadanya. Jika ingin membunuh si Pitung harus menggunakan peluru emas. Schout Heyne menembakkan empat peluru. Salah satu peluru yang digunakan adalah peluru emas. Tapi saat ditembak pitung juga tidak langsung mati. Selanjutnya pitung dibawa kedalam mobil ambulance yang sudah dibawa sekaligus oleh Schout Heyne.

Pitung mengalami skaratul maut. Dalam penelitian Mahred Vantil. Dalam catatan-catatan kepolisian Belanda yag dikumpulkan oleh Mahred Vantil. Pitung menyanyi didalam ambulance. Diduga si pitung mengalami rumah tangga yang tidak Bahagia dari kedua orang tuanya. Menjadi anak broken home se hingga membuat pitung tidak Bahagia. Kehilangan amicemade.

Pitung pun bernyanyi nina bobo (Batavian lalabaye)saat skaratul maut. Dung indung. Sipitung mau bobo. Bobonye lagi dalam ayunan. Boboklah bobo. Sipitung mau bobo. Kalau tak bobo digigit nyamuk.

Schout Heyne pun marah melihat pitung bernyanyi. Sraaaah koe pitung. Kau menyanyi terus. Kau menyanyi terus. Seharusnya koe mengajukan permintaan terakhir. Mau minum apa? Mau makan apa? Bukan menyanyi terus kata Schout Heyne.

Pitung menginginkan Tuak Pakai es saat skaratul maut. Permohonan pitung itu dikabulkan oleh Schout Heyne. Schout Heyne menyuruh supir ambulan itu untuk mencari Tuak pakai es. Mobil ambulance berhenti dan menemukan penjual Tuak pakai Es. Pitung pun wafat saat tuak pakai es yang diminum nya belum habis.

Pada zaman itu minum pakai es sangat mewah. Siapapun yang minum pakai es dianggap sudah hebat. Karna kulkas saat itu sangat mahal. Tidak ada yang mampu membeli kulkas.

Ambulance yang membawa pitung langsung menuju ke Hospital Militer yang sekarang bernama RSPAD Gatot Soebroto. Empirik jenasah pitung yang tidak dikenal keluarganya. Lalu Siapapun pada waktu itu. Korban siapapun yang tidak dikenal. Langsung dikubur dipelataran RSPAD Gatot Subroto.

 

 

 

 

Sumber:

Mahrid Vantil yang diceritakan oleh babe Ridwan Saidi sang Budayawan Betawi.

Ditonton pada tanggal 10 September 2020

Di cenel macan idealis https://www.youtube.com/watch?v=GK8PhM0CXUU








#RSPAD #Betawi #Jakarta #Glodok #Belanda #Pitung #Polisi #sejarah #waktu #cina #Bandengan #kalimalang

Friday, 9 October 2020

PUAN MAHARANI BERDARAH PADANG

PUAN MAHARANI BERDARAH PADANG 

Ketua DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia) periode 1 Oktober 2019 sampai dengan 30 September 2024 adalah Ibu Puan Maharani. Beliau adalah ketua DPR RI perempuan pertama di Indonesia. Beliau dilahirkan pada tanggal 6 September 1973 di Jakarta [1]. Kedua Orang tua Puan Maharani merupakan tokoh terkenal di Republik Indonesia.

Puan Maharani merupakan seorang anak yang memiliki darah keturunan "Minang". Ibunya Puan Maharani adalah seorang mantan Presiden Republik Indoonesia. Ibunya Puan maharani bernama Megawati Soekarno Putri. Nenek dari Puan Maharani bernama Ibu Fatmawati. Beliau memiki nama asli Fatimah

Ibu Fatmawati adalah seorang tokoh bersejarah yang telah menjahitkan sang saka merah putih pertama kali. Nenek dari Puan Maharani ini juga memiliki darah asli minang (Sumatra Barat) yang pergi merantau ke Bengkulu. Nenek dari Puan Maharani ini lahir pada 5 Februari 1923 di Bengkulu. orang tua dari Nenek Puan Maharani ini bernama Hasan Din dan Siti Chadijah [2].

Ibu Fatmawati yang merupakan Istri Ketiga dari Presiden Pertama Republik Indonesia. Beliau menikah dengan Soekarno pada tanggal 1 Juni 1943. Pernikahan tersebut berlangsung saat Soekarno belum resmi menjadi Presiden Republik Indonesia Pertama. Dari pernikahan tersebut lahirlah Guntur Soekarno Putra, Megawati Soekarno Putri, Rahmawati Soekarno Putri, Sukmawati Soekarno Putri, Guruh Soekarno Putra. 

Sukarno pada orang minang disebut sebagai sumando minang. Sumando minang yang memiliki arti sebagai "beristri orang minang". Beliau sangat disayang oleh orang minang karna beristrikan orang minang (sumando). Ketika Soekarno diasingkan ke Bengkulu dan Jepang ingin masuk. Belanda selalu mengungsikan tokoh-tokoh nasional ke luar negeri seperti ke Australia. Tokoh Nasional tersebut ingin diungsikan ke keluar negeri agar tidak dimanfaatkan oleh Jepang. 

Soekarno saat itu ingin diungsikan oleh Belanda ke Australia. Perjalanan yang digunakan oleh Belanda saat mengungsikan Soekarno melalui jalur darat. Jalur daratnya itu dari Bengkulu ke Padang. Pada saat ingin diungsikan tak diduga tentara Jepang sudah masuk di Bengkulu. Di tinggalkan lah Soekarno oleh tentara Belanda di Bengkulu. Berita tersebut sampai kepada tokoh-tokoh Sumatra Barat yang tahu persis bahwa Soekarno ini teman Pak Hatta. Pak Hatta merupakan pahlawan berdarah minang kawan dari Pak Soekarno. Pada saat itu Soekarno belum menjadi sumando minang pada saat itu.

Pak Soekarno di Jemput oleh tokoh minang. Beliau dibawa menggunakan transportasi yang bernama pedati. Pedati digunakan karna pada saat itu jarang sekali ada mobil dan bisa dikatan tidak ada mobil pada zaman tersebut. Dalam perjalanannya Soekarno menuju Padang. Kondisi Soekarno sudah terlihat lusuh. terlihat sekali Soekarno tidak terurus. Pakaianya yang dikenakannya seperti sudah tidak tercuci bermingu-minggu. 

Soekarno dibawa oleh tokoh-tokoh minang ke Padang. Lalu di tampung oleh seorang tokoh minang yang bernama Datuk Majo Urang. Datu Majo urang adalah kakek dari Alm. Arif Ariman (Seorang ekonom). Sekarang tempat itu ada di A. Yani nomor 14 Padang. Saat tinggal dirumah Datuk Majo Urang beliau dibelikan pakaian. Lalu beliau dibawa pergi lagi oleh tokoh-tokoh minang ke Bukit Tinggi menggunakan kereta api.

Kemudian Soekarno berkunjung ke Madrasah Darufunun. Madrasah Darufunun merupakan pesantren terbesar Sumatra Tengah pada zaman itu.  madrasah Darufunun saati itu dipimpin oleh bapak Abas Abdullah. Beliau datang terlambat. Soekarno membuat janji jam 12 dengan Bapak Abas Abdullah tapi terlambat.  Pada saat itu sudah banyak orang yang menunggu kedatangan Soekarno dipesantren itu. 

Bapak Abas Abdullah tersebut menegur Soekarno yang datang terlambat saat itu. "Anda ini akan menjadi pemimpin Indonesia. Jangan biasakan Anda ini tidak tepat janji". Kata Bapak Abas Abdullah kepada Soekarno yang pada saat itu datang terlambat.

Bapak Abas Abdullah pun memberikan saran kepada Soekaro untuk mengganti peci yang biasa digunakan. Peci Soekarno yang biasa digunakan bukanlah seperti peci yang sering dilihat pada foto-foto Soekarno. Peci saat yang digunakan saat itu terlihat pendek. "Anda calon pemimpin bagi bangsa ini. Jadi Anda harus terlihat gagah". Kata Pak Abas Abdullah kepada Soekarno pada saat itu. Sehingga Soekarno pun mengganti pecinya. Peci yang dipakai itu adalah peci yang sering dilihat pada foto-foto Soekarno saat ini.

Bapak Abas Abdullah ini juga mengingatkan Soekarno bahwa gigi taringnya agak dempet (gingsul). Pesona Soekarno terdapat pada giginya yang gingsul. Tapi orang seperti pak Soekarno yang memiliki gigi gingsul ini harus hati-hati. Karna orang yang memiliki gingsul seperti bapak Soekarno ini gampang tertarik oleh wanita cantik. Dalam bahasa minang seorang yang gampang tertarik wanita cantik disebut dengan "rambang mato". Rambang mato pada saat ini disamakan dengan mata keranjang. Hanya saja memiliki pengertian dan bahasa yang lebih halus [4].

Setelah empat bulan berlalu di Jakarta. Soekarno menemui Hatta. saat pertemuan dengan hatta tersebut. beiau mengatakan ingin menikahi Fatmawati. Dalam pertemuan tersebut bersama dengan empat serangkai minta membuat surat pernyataan. Jika anda mau menikah dengan Fatmawati. Anda harus membuat surat pernyataan memberikan jaminan satu inggit sebagai biaya hidupnya Fatmawati dan harus menyediakan tempat tinggal berupa rumah di Bandung. lalu harus menanggung biaya hidupnya seumur hidup. Lalu diizinkan menikah Soekarno oleh empat serangkai. 

Saat yang membawa Fatmawati dan kedua orangtuanya ke Jakarta adalah Samaun Mahdi (dalam riwayat lain bernama Samaun Bakri). Samaun Mahdi merupakan orang Padang. Samaun Bakri jugalah yang membantu persiapan Soekarno menikah dengan Fatmawati. Samaun makdi tidak sendiri dalam mempersiapkan pernikah Soerkano dengan Fatmawati. Beliau dibantu oleh Bapak Abdul Karim Oei dan dr. Djamil.

Peroses pernikahan Soekarno dan Fatmati diurus pada tanggal 1 juni 1943. Pernikahan Soekarno dan Fatmawati tidak langsung bertatap muka. Tapi pernikahan tersebut diwakilkan oleh teman dari Samaun yang bernama Sarjono. Setelah terjadi pernikahan Sukarno (diwakilkan oleh Sarjono) dan Fatmawati barulah Samaun mengantarkan Fatmawati ke pada Soekarno dari Bengkulu Ke Jakarta.

Lalu Bapak Dari Puan Maharani adalah Bapak Taufik Kemas. Beliau adalah seorang tokoh politik yang pernah menjabat sebagai anggota DPR/MPR pada tahun 1992. Beliau terpilih menjadi anggota dewan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Orang berliau bernama Tjik Agus Kiemas dan Hamzathoen Roesyda. Ayah dari Pak Taufik Kieamas berasal dari Sumatra Selatan. Sedangkan Ibu dari Pak Taufik Kiemas berasal dari Minangkabau di Batipuh Tanah Datar Sumatra Barat [3].


















































Sumber :

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Puan_Maharani 

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Kiemas

[3] Indonesia Lawyers Club dengan topik pembahasan Sumbar Belum Pancasilais? Diopload pada tanggal 10 September 2020 pada alamat https://www.youtube.com/watch?v=GsC-wj2byKg

[4] Hasril Chaniago pada Indonesia Lawyers Club dengan topik pembahasan Sumbar Belum Pancasilais? Diopload pada tanggal 10 September 2020 pada alamat https://www.youtube.com/watch?v=GsC-wj2byKg











#RUU #PUAN #PDIP #SOEKARNO #PECI #MEGAWATI #DPR #MPR #MINANG #PADANG

Sunday, 4 November 2018

SEKILAS RIWAYAT DARI KALAPA SAMPAI JAKARTA BAGIAN 2

Jayakarta

Raja Sunda Pajajaran pada masa itu, Sri Baduga Maharaja, tidak resah mengetahui agama Islam merembes masuk ke wilayah kerajaannya karena tampak berlangsung secara damai tanpa kekerasan senjata. Bahkan menurut ceirta, ada beberapa keluarga istana yang memeluk agama Islam, seperti Kean Santan yang berguru pada Syekh Quro didataran Karawang sekarang.

Daerah Cirebon pun sampai dikuasai oleh kaum muslimin dibawah pimpinan Syarif Hidayat yang bergelar Susuhunan (Sunan) Jati. Hal yang membuat Sri Baduga miris adalah sepak terjang Kesultanan Demak yang agresif dan pada waktu itu telah menundukkan Majapahit yang dikenal cukup tangguh.

Selain itu, hubungan Demak dan Cirebon semakin kukuh berkat perkawinan putra-putri dari kedua belah pihak. Persekutuan Demak dan Cirebon ini mencemaskan Sri Baduga yang kemudian mengutus putra mahkota, Surawisesa, agar mengupayakan hubungan diplomatik dengan orang-orang Portugis di Malaka yang telah menguasai Malaka dibawah pimpinan Alfonso d'Albuquerque. Sebaliknya, upaya Pajajaran ini justru mencemaskan pihak Demak.

Sri Baduga Maharaja memerintah selama 39 tahun dan kemudian digantikan oleh Surawisesa. Baik sumber Portugis maupun Nagara Kretabhumi mengisahkan bahwa ia pernah diutus ayahnya untuk menghubungi Alfonso d'Alberquerque di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali, yaitu tahun 1512 dan 1521. Hasil kunjungan pertama ialah kunjungan penjajakan pihak Portugis dan hasil kunjungan kedua ialah kedatangan utusan Portugis ke Pakuan. Perutusan ini dipimpin oleh Hendrik de Leme, ipar Alfonso. Dalam kunjungan tersebut telah tercapai persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan serta keamanan.

Selain itu, dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta oleh pihak Pajajaran. Kemudian saat benteng mulai dibangun, pihak Pajajaran akan menyerahkan 1.000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua custumodos (kira-kira seberat 351 kuintal).

Perjanjian Pajajaran dengan Portugis sangat mencemaskan Trenggana yang waktu itu menjadi Sultan Demak III. Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Apabila selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantra sebelah selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam terputus (W. Fruin Mees, Geschidenis van Java).

Trenggana segera mengirim armadanya dibawah pimpinan Fatahillah, sasaran utamanya adalah Banten pintu masuk Selat Sunda. Dalam Carita Parahiyangan Pasukan Kesultanan Demak berhasil menguasai Sunda Kalapa yang didukung oleh penguasa Cirebon, Syarif Hidayatullah, yang telah wafat lebih dikenal dengan Sunan Gunung Djati, setelah mengalahkan penguasa Kalapa, Ratu Sangiang (adik Surawesesa).

Pada 1527 datanglah pasukan Portugis dibawah pimpinan Fransisco de Sa. Bantuan Portugis ini datang terlambat karena Fransisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Orang Portugis tidak mengetahui jika Suna Kalapa sudah dikuasai oleh Fatahillah. Pasukan Portugis turun dengan sekoci-sekocinya untuk merapat kepelabuhan sunda Kalapa dengan sekoci-sekoci.

Setelah merapat, mereka disergap oleh Fatahillah dan pasukannya. Namun, Fransisco de Sa berhasil melarikan diri karena dia tidak ikut turun bersama pasukannya. Setelah dikuasai sepenuhnya oleh Fatahillah, nama Sunda Kalapa diganti menjadi Jayakarta yang mengandung arti kemenangan atau kesejahteraan mutlak. ada juga yang menulis atau menggunakan Jayakarta atau Jakarta, kemudian umum disebut Jakarta.

Mengenai penggantian nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta hingga kini terdapat dua pendapat yang berbeda, yaitu menurut Prof. Mr. Dr. Soekanto dan Prof. Dr. P. A. Hosein Djajadiningrat. Menurut r. Soekanto, Fatahillah merebut Sunda Kalapa pada akhir Februari 1527. Beberapa hari kemudian datang armada Portugis dibawah pimpinan Fransisco de Sa yang bermaksud membangun benteng di Sunda Kalapa. Armada ini digempur oleh Fatahillah kira-kira pada pertengahan Maret 1527.

Dengan tercapainya kemenangan itu, maka setelah mempertimbangkan masak-masak dan berdasarkan penanggalan pranatamangsa (penanggalan yang hidup dikalangan rakyat dan berhubungan dengan pertanian), Fatahillah mungkin sekali memilih tanggal 1 prantamangsa sebagai hari untuk mengganti nama Sunda Kalapa dengan nama Jayakarta. Tanggal 1 pranatamangsa tersebut menurut penanggalan Masehi jatuh pada 22 Juni 1527. Seperti yang sudah dikemukakan diatas, arti Jayakarta adalah kemenangan penuh Fatahillah terhadap orang-orang Portugis, musuh yang sangat dibenci oleh orang Islam pada masa itu.

Sanggahan terhadap pendapat Dr. Soekanto dikemukakan oleh Prof. Hoesein Djajadiningrat. Menurutnya, berdasarkan sumber dari penulis sejarah bangsa Eropa, armada Fransisco de Sa berangkat dari Malaka menuju Sunda Kalapa pada 23 Oktober 1526. Pada Desember 1526 ketika perayaan Natal di Cochhij (India), diperoleh kabar bahwa rombongan itu telah kembali pada akhir Desember 1526, Fransisco de Sa bertolak ke India.

Berdasarkan hal tersebut, Prof. Hoesein Djadiningrat berpendapat jatuhnya Sunda Kalapa terjadi pada Desember 1526. Jika jatuhnya Sunda Kalapa ke tangan Fatahillah bertepatan dengan hari raya atau hari peringatan Islam, maka dapat diduga bahwa hari raya Islam yang paling dekat di akhir Desember 1526 adalah Hari Maulud 12 Rabiulawal 933 Hijriah yang jatuh pada senin, 17 Desember 1526.

Besar kemungkinan Fatahillah merenungkan kemenangannya, ia teringat kepada kemenangan Muhammad yang terpenting, yaitu merebut Kota Makkah dan teringat pula kepada ayat pertama dari surat Al-Fath yang berbunyi "Inna Fatahna laka Fathan Mubinan" (sesungguhnya kami telah memberikan kemenangan kepadamu kemenangan yang tegas).

Oleh Karena itu, fatahillah lalu mendapat ilham untuk menamai dirinya fathan (nama ini kemudian karenan salah dengar dan salah tulis, dijadikan falatehan oleh orang Portugis), sedangkan nama Sunda Kalapa lalu diganti dengan terjemahan kata Fathan mubinan yaitu, Jayakarta. Demikian dua pendapat mengenai penamaan dan penanggalan digantinya nama Sunda kalapa menjadi Jayakarta.


Batavia 
Nama Jayakarta yang mengandung arti kejayaan dan kesejahteraan itu rupanya tidak memberi kenyataan seperti ketika Sunda Kalapa terkenal sebagai kota Pelabuhan yang ramai disinggahi kapa-kapal niaga, baik antarpulau maupun Internasional. Setelah dinamai Jayakarta justru pamornya semakin lama semakin kalah dengan Pelabuhan Banten.

Selama puluhan tahun pelabuhan Jayakarta lebih banyak dikenal sebagai pelabuhan nelayan dan jarang sekali disinggahi kapal niaga. Padahal beberapa komoditasnya, seperti beras, sayur mayur, buah-buahan, dan hewan ternak melimpah, harga murah, sebagaimana diberitakan oelh Jan Huygen van Linscehoten[1 ] dalam Itinerario.

Jayakarta adalah bagian wilayah Kesultanan Banten. Sultan Maulana Hasanuddin menganggkat menantunya, Tubagus Angke, sebagai penguasa Jayakarta. Pada 1601, Tubagus Angke wafat. Jabatannya sebagai penguasa Jayakarta diteruskan oleh putranya, Pangeran Jayakarta Wijayakrama yang lebih dikenal sebagai Pangeran Jayakarta atau Pangeran Jakarta.

Sebagaki kepala daerah yang berjiawa muda, Pangeran Jayakarta Wijayakrama jauh lebih berani mengambil keputusan dan tindakan dibandingkan dengan ayahnya untuk kemajuan Jayakarta. Dia berani membuat persetujuan dengan persukuan dagang asing. Mula-mula dengan orang-orang Inggris, kemudian dengan orang-orang Belanda.

Ceritanya selanjutnya adalah jatuhnya Jayakarta ke tangan VOC dan namaya kemudian diganti menjadi Batavia. Nama-nama tempat dan jalan yang diberikan akan ditetapkan pada zaman kolonial, dari masa pemerintahan VOC sampai masa awal pemerintahan kolonial Hindia Belanda, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, nama-nama tempat dan jalan yang berasal dari bahsa Belanda, seperti Batavia sebagai nama kota dan Oranje Boulevaard (sekarang jalan Dipenegoro) sebagai nama jalan. Kedua, nama-nama tempat yang berasal dari bahasa Pribumi, contohnya Cililitan, Marunda, dan Menteng.


Jakarta
 Pada masa pendudukan tentara Jepang, nama Jakarta dihidupkan kembali. Hal itu diumumkan dan Kang Po (Berita pemerintah bala tentara Jepang) No. 9 thn. I bulan 12 tanggal 8 Desember 1942 untuk waktu yang tidak terbatas.






















Sumber:
[1] Jan Huygen van Linschehoten adalah pelau Belanda pertama yang mengetahui rahasia rute pelayaran orang-orang Portugis ke Asia Timur (diketik dari buku "ASAL USUL NAMA TEMPAT di JAKARTA dengan penulis Rachmat Ruchiat")



m

Thursday, 1 November 2018

SEKILAS RIWAYAT DARI KELAPA SAMPAI JAKARTA

(diketik pada tanggal, 1 November 2018 di Jakarta, sumber : Buku "ASAL USUL NAMA TEMPAT DI JAKARTA")

KALAPA

Kalapa yang terletak di tepian muara Kali Ci Liwung adalah pelabuhan Kerajaan Sunda yang ibukotanya bernama Pakuan Pajajaran, jauh dipedalaman, di tempat yang sekarang menjadi Kota Bogor.

Kerajaan Hindu tersebut lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajajaran. Wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran di Pantai utara meliputi daerah Cirebon, Sangiang, dan Banten. Kalapa termasuk wilayah Sangiang yang disebut oleh orang-orang Portugis sebagai Samian. Nama Pelabuhan tersebut ditemukan dalam dua naskah lontar beraksara Sunda kuno, yaitu Bujangga Manik dan Carita Parahiyangan.

Entah bagaimana ceritanya, naskah Bujangga Manik itu kini tersimpan di Perpustakaan Bodlein, Oxpord, Inggris[1]. Isinya tentang kisah perjalanan Bujangga Manik, seorang rahib yang berasal dari Keraton Pakuan, menyusuri Pulau Jawa dan Bali. Waktu itu Majapahit masih menguasai Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali secara utuh, serta kesultanan Demak belum berdiri. Ketika pulang dari perjalanan pertama dia menumpang sebuah kapal layar dari Pemalang sampai Kalapa. Antara Kalapa dan Pakuan dia menyebut 11 nama tempat yang dilaluinya. Namun, hanya tiga nama tempat yang masih dapat diidentifikasi, yaitu kalapa, Pabean, dan Ancol. Selain Itu, disebut-sebut pula orang Angke yag menjadi salah seorang anak buah kapal.

Naskah Carita Parahiyangan tersimpan di Perpustakaan nasional engan kode naskah koropak nomor 406. Naskah tersebut telah diterjemahkan oleh Aca dan Saleh Danasasmita. Dalam Carita Parahiyangan disebut-sebut nama tempat Kalapa, Ancol (Tiji), Tanjung, dan Wahentan (Banten).

SUNDA KALAPA

KALAPA pada zamannya tergolong pelabuhan Internasional. Tidak hanya perahu-perahu dari berbagai penjuru Nusantara, tetapi juga yang biasa berlabuh disitu kapal-kapal dari negara lain, seperti Tiongkok dan India. Pada kedua abad ke-15, Kalapa disinggahi kapal orang-orang Portugis. Mereka membuat peta navigasi dari pantai utara Pulau Jawa. Dalam peta itu, Kalapa tercantum dengan nama Cunda Calapa. 
Orang-orang Portugis melengkapi nama Kalapa dengan kata Sunda untuk menyatakan bahwa pelabuhan itu milik kerajaan Sunda atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajajaran. Nama Kalapa mulai muncul antara lain ketika Tomes Pires menyebut dalam bukunya, Suma Oriental, bahwa pelabuhan yang letaknya disisi sebalah timur muara Sungai Ci Liwung itu adalah pelabuhan yang sudah tertata rapi, ada syahbandar, hakim, juga bendahara (mangkubumi). Hal tersebut juga tercatat oleh Jan Huygen Van Linsehoten dalam Itinerario yang dibuat pada 1556. Pada peta yang digambarkan dalam buku tersebut, tercatat sebuah pelabuhan bernama Cunda Calapa.


Keterangan Sumber:
[1] Untuk Pertama kalinya naskah itu diumumkan oleh J. Noordayan dalam Bijdragen Tot Taal an Land an Volkenkundig 138, 1982, 7, hlm: 41-42. Judulnya: Bujangga Manik's Journeys Through Jawa. Topographical Data from Old Sundanese Source (bersumber dari buku Asal Usul Nama Tempat di Jakarta hal. 3)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More