Chit Chat

all in one 
computer all in one 
computer
all in one 
computer all in one 
computer
all in one 
computer all in one 
computer
Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Friday, 6 November 2020

MENEMPUH JALAN RAKYAT OLEH D.N AIDIT (PART 3)

MENEMPUH JALAN RAKYAT

(Pidato kawan D.N Aidit untuk memperingati ulang tahun PKI yang ke-32 – 23 Mei 1952. Diucapkan pada malam tanggal 26 mei di Gedung Pertemuan Umum,  Jakarta)

 




Hadirin yang terhormat,

Pertama-tama atas nama Politbiro CC PKI, saya mengucapkan terimakasih kepada saudara-saudara yang sudah sudi datang dalam melam peringatan ulang tahun PKI yang ke-32 ini.

Kepada wakil kaum buruh, wakil kaum tani, kaum terpelajar dan orang-orang terkemuka yang revolusioner dan progresif, PKI menyampaikan salutnya berhubungan dengan keuletan dan keperwiraan dari golongan-golongan rakyat yang saudara-suadara wakili dalam perjuangan untuk mencapai Indonesia baru, untuk mencapai kemerdekaan nasional yang sejati, demokrasi dan perdamaian abadi.

Sebagaimana saudara-saudara sudah mengetahui pada tanggal 23 Mei tahun ini PKI berumur genap 32 tahun. Bagi dunia kepartaian di tanah air kita ini, umur 32 tahun termasuk umur yang tinggi. Banyak partai-partai didirikan, tetapi ia hanya berumur beberapa tahun dan kemudian lenyap. Jadi teranglah, bahwa untuk mencapai usia 32 tahun, PKI mesti mempunyai dasar yang sangat kuat dan keuletan yang luar biasa.








#PKI #Aidit #Indonesia

Tuesday, 3 November 2020

MENEMPUH JALAN RAKYAT OLEH DN AIDIT (PART2)


MENEMPUH JALAN RAKYAT

(PART 2)

OLEH D.N. AIDIT

Yayasan Pembaruan Jakarta



 

Pada part ke-2 ini saya ingin menceritakan isi buku pada halaman ke-5. Menceritakan tentang “Kata Pengantar Penerbit”. Kata pengantar ini dibuat pada Bulan Juni 1952 oleh Penerbit. Isi dari kata pengantar tersebut adalah sebagai berikut.

KATA PENGANTAR

Rakyat dari segala lapisan sangat memperhatikan segala Langkah-langkah PKI.

Ditengah-tengah keadaan dimana tingakt penghidupan Rakyat semakin sangat merosot: pemecatan kaum buruh merajalela dan bahaya kelaparan timbul dimana-dimana; ditengah-tengah keadaan dimana gerombolan-gerombolan Darul islam, Bosch, Smith, dan lain-lain masih terus menerus menimbulkan kurban harta-benda dan jiwa yang tidak sedikit dari rakyat didesa-desa; ditengah-ditengah keadaan dimana tekanan politik imperialism Amerika semakin keras dan kasar untuk menjerat Indonesia ke dalam persiapan peperangan imperialis yang baru; ditengah-tengah keadaan dimana kesadaran politik dari rakyat meningkat dengan cepat berkat pengalaman-pengalaman yang pahit dibawah pemerintahan yang terikat KMB; ditengah-tengah semua keadaan ini PKI menunjukkan jalan yang benar kepada rakyat dan mendorong pemerintah Indonesia dari ikatan-ikatan dan tekanan-tekanan imperialism Belanda-Amerika dan yang akan mengatsi kekacauan-kekacauan dan kesukaran-kesukaran didalam negeri. Inilah sebabnya maka rakyat mencurahkan perhatian dan harapannya kepada PKI.

Puncak perhatian rakyat terhadap PKI ini ditunjukkan idalam peristiwa peringatan ulang tahun yang ke-32. Dimana-mana resepsi ataupun rapat umum peringatan ulang tahun ini dihadiri oleh ribuan rakyat. Demikianlah salah satu diantara resepsi peringatan ulang tahun yang sangat meriah adalah resepsi di Jakarta, dimana kawan D.N. Aidit mengucapkan pidatonya yang membentangkan sekedar sejarah dan politik PKI dengan secara ringakas, tegas dan terang.

Kemudian datang kepada kita banyak permintaan dari kalangan kaum buruh dan orang-orang progresif, terutama dari mereka yang menghadiri resepsi peringatan ulang tahun itu, supaya pidato kawan D.N Aidit di brosurkan. Atas desakan permintaan ini dan atas pertimbangan kita sendiri, bahwa pidato ini bisa menjelaskan fitnahan-fitnahan yang keji terhadap PKI, maka kita terbitkan brosur kecil ini.

Dengan terbitnya brosur kecil ini, yang kita beri nama: “Menempuh Jalan Rakyat”, kita merasa telah menyediakan satu bahan bagi mereka yang hendak sunguh-sungguh mengenal PKI sebagai satu-satunya partai kelas buruh yang sejati di Indonesia.

                                                                                                                                                Penerbit.

Jakarta,  Juni 1952

***




#PKI #Aidit #KMB #Amerika #Belanda

Wednesday, 21 October 2020

TAN MALAKA, DIA YANG MAHIR DALAM REVOLUSI

 TAN MALAKA

DIA YANG MAHIR DALAM REVOLUSI


Hatinya terlalu teguh untuk berkompromi. Maka ia berburu polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika, dan Jepang di 11 negara demi cita-cita utama; kemerdekaan Indonesia

Ia, Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya "Bapak Republik Indonesia". Soekarno menyebutnya "seorang yang mahir dalam revolusi'. Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.

Ia seorang yag telah melukis revolusi Indonesia dengan bergelora.Namanya Tan Malaka, atau Ibrahim Datuk Tan Malaka, dan kini mungkin dua-tiga generasi melupakan sosoknya yang lengkap ini: kaya gagasan filosofis, tapi lincah berorganisasi.

 Orde baru telah melebur hitam peran sejarahnya. Tapi harus diakui, di mata sebagian anak muda, Tan mempunyai daya tarik yang tak tertahankan. Sewaktu Soeharto berkuasa, menggali pemikiran serta langkah-langkah politik Tan sama seperti membaca novel-novel Pramoedya Ananda Toer. Buku-bukunya disebarluaskan lewat jaringan klandestin. Diskusi yang membahas alam pikirannya dilangsungkan secara berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI)., sosoknya sering kali dihubungkan dengan PKI: musuh abadi Orde Baru.

Perlakuan Serupa menimpa Tan di Masa Soekarno berkuasa. Soekarno, melalui kabinet Sjahrir, memenjarakan Tan selama dua setengah tahun, tanpa pengadilan. Perseteruannya dengan para pemimpin pucuk PKI membuat ia terlempar dari lingkaran kekuasaan. Ketika PKI akrab dengan kekuasaan, Bung Karno memilih Muso-orang yang telah bersumpah menggantung Tan karena pertikaian internal partai-ketimbang Tan. Sedangkan D.N Aidit memburu testamen politik Soekarno kepada Tan. Surat wasiat itu berisi penyerahan kekuasaan kepemimpinan kepada empat nama-salah satunya Tan- apabila Soekarno ditangkap. Akhirnya Sokarno sendiri membakar testamen tersebut. Testamen itu berbunyi: "..Jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusi Tan Malaka.

Politik memang kemudian menenggelamkannya. Di Bukit Tinggi, dikampung halamannya, Nama Tan Cuma di dengar sayup-sayup. Ketika harry Albert Poeze, sejarawan belanda yang meneliti Tan sejak tahun 1972 mendatangi Sekolah Menengah Atas 2 Bukit Tinggi, guru-guru sekolah itu terkejut. Sebagian guru tak tahu Tan Pernah mengenya pendidkan di sekolah yang dulu bernama Kweeschool (sekolah Guru) itu pada 1907-1913. Sebagian lain justru tahu dari murid yang rajin berselancar di Ineternet. Mereka masih tak yakin, sampai kemudian Poeze datang. Poeze pun menemukan prasasti Engku Nawawi Sutan Makmur, guru Tan, tersembunyi dibalik lemari sekolah.

Disepanjang hidupnya, Tan telah menempuh pelbagai royan: dari masa akhir Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik hingga Perang Dunia II. Di kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandan Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 ini merupakan tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta sebagai pleidoi didepan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).

Buku Naar De Republik dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemudaradikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Waktu itu Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung. Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantara menyimpan buku dikutip Bung Karno dalam Pledoinya, Indonesia Menggugat.

W.R Supratman pun telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukkan kalimat "Indonesia tanah tumpah darahku" kedalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari massa actie, pada bab bertajuk "Khayal Seorang Revolusioner". Disitu Tan antara lain menulis, "Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri .... kewajiban seorang yang tahu kewajiban putra tumpah darahnya.

Di seputar Proklamasi, tan menorehkan perannya yang penting. Ia menggerakkan para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan IKADA (Kini Kawasan Monas), 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan "masih sebatas catatan di atas kertas". Tan menulis aksi itu " uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan". Stelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan gencar.

Kehadiran Tan di Lapangan Ikada menjadi cerita menarik tersendiri. Poeze bertahun-tahun mencari bukti kehadiran Tan itu. Sahabat-sahabat Tan, seperti Sayuti Melik, bekas menteri Luar negeri Ahmad Soebardjo, dan mantan Wakil Presiden Adam Malik, telah memberikan kesaksian. tapi kesaksian itu harus didukung bukti visual. Dokumen foto peristiwa itu tak banyak. Memang ada rekaman film dari Berita Film Indonesia. Namun mencari seorang Tan di tengah kerumunan sekitar 200 ribu orang dari pelbagai daerah bukan perkara mudah.

Poeze mengambil jalan berputar. ia menghimpun semua ciri Khas Tan dengan mencari dokumen di delapan dari 11 negara yang pernah didatangi Tan, misalnya selalu memakai topi perkebunan sejak melarikan diri di Filipina (1925-1927). Ia cuma membawa paling banyak dua setel pakai. Dan sejak keterlibatan dalam gerakan buruh di Bayah, Banten pada 1940-an. Ia selalu memakai celana selutut. Ia juga selalu duduk menghadap jendela setiap kali berkunjung kesebuah rumah. Ini Untuk mengantisipasi jika polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika tiba-tiba datang menggerebek. Ia memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer-dua kali jarak yang ditempuh Che Guevara di Amerika Latin.

Satu lagi bukti yang mesti dicari: berapa tinggi Tan sebenarnya? di Buku Dari Penjara ke Penjara II. Tan bercerita ia dipotret setelah cukur rambut dalam tahanan di Hongkong. "Sekonyong-konyong tiga orang memegang kuat tangan saya dan memegang jempol saya buat diambil kuat tangan saya dan memegang Jempol saya buat diambil capnya. Semua dilakukan serobotan,"ucap Tan. Dari buku ini Poeze pun mencari dokumen tinggi Tan dari arsip polisi Inggris yang menahan Tan di Hongkong. Eureka! Tinggi Tan ternyata 165 centimeter. Lebih pendek daripada Soekarno (172 centimeter). dari ciri-ciri itu, Poeze menemukan foto Tan terbukti berada dilapangan tiu dan menggerakkan pemuda.

Tan tak pernah menyerah. Mungkin itulah yang membuatnya sangat sangat kecewa dengan Soekarno-Hatta yang memilih berunding dan kemudian ditangkap Belanda. Menurut Poeze, tan berkukuh, sebagai pemimpin revolusi Soekarno semestinya mengedepankan perlawanan gerilya ketimbang menyerah. Baginya, perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan Indonesia 100 persen dari Belanda dan Sekutu. tanpa itu nonsens.

Sebelum melawan Soekarno, Tan pernah melawan dalam kongres Komunis Internasional di Moskow pada 1922. Ia mnegungkapkan gerakan komunis di Indonesia tak akan berhasil mengusir kolonialisme jika tak bekerja sama dengan Pan-Islamisme. Ia juga menolak rencana kelompok Prambanan menggelar pemberontakan PKI 1926/1927. Revolusi, kata Tan, tak dirancang berdasarkan logistik belaka, apalagi dengan bantuan dari luar seperti Rusia, tapi pada kekuatan massa. Saat itu otot revolusi belum terbangun baik. Postur kekuatan komunis masih ringkih. "Revolusi bukanlah sesuatu yang dikarang dalam otak," tulis Tan. Singkat kata, rencana pemberontakan itu tak matang.

Penolakan ini tak urung membuat Tan disingkirkan para pemimpin parta. Tapi, bagi Tan, partai bukanlah segala-galanya. jauh lebih penting dari itu: kemerdekaan nasional Indonesia. Dari sini kita bisa membaca watak dan orientasi penulis Madilog ini. Ia seorang Marxis, tapi sekaligus nasional. Ia seorang komunis, tapi kata Tan, "Di depan Tuhan saya seorang muslim" (siapa sangka ia hafal Al-Quran sewaktu muda). Perhatian utamanya adalah menutup buku kolonialisme selama-lamanya.

***


hal. 1-8 buku Tan Malaka Bapak Republik Yang Dilupakan (Tempo seri saku)
















#Tan #Malaka #Indonesia #PKI #Belanda #Jepang #NKRI  #Soekarno #Hatta #Sjahrir #Soeharto #Belanda #Inggris #Amerika #Jepang #Republik #Revolusi #Aidit #Banten #Komunis #Karno #Quran #Marxis #madilog #Rusia #Filipina #IKADA #Monas #Supratman #kemerdekaan #madilog

Saturday, 10 October 2020

PITUNG ITU SOLIHUN?

 PITUNG ITU SOLIHUN?



Pitung merupakan tokoh Betawi. Cerita tentang pitung banyak sekali kontroversinya. Ada yang bilang pitung merampok. Ada yang bilang pitung itu jawara. Ada yang bilang pitung terpelajar. Ada yang bilang sosok pitung itu ada 7 orang. Ada yang bilang pitung itu jagoan.

Jadikah siapakah pitung itu? Untuk membicarakan pitung. Sudah seharusnya cerita pitung itu memiliki rujuan yang dapat dipertanggung jawabkan. Rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan itu hanya ada satu. Rujukan tersebut berasal dari mahred Vantil. Mahred Vantil berhasil menemukan korespondensi pitng dengan pengurus Masjid Al-atik Bukit Duri. Hal itu ditemukan saat pitung masih di penjara Bukit Duri.

Korespondensi itu menemukan fakta bahwa nama pitung itu adalah Solihun. Pitung itu adalah julukan yang bernama Solihun. Pada abad 19 terdapat nama Solihun itu cuku unik dan jarang. Dan pada abad 19 nama orang dibetawi pada saat itu biasanya nama yang mudah diucapkan. Contohnya seperti nama engkik.

Pitung itu adalah julukan. Namanya yang sebenarnya adalah Sholihun. Jika dilihat sumber koran-koran Belanda memiliki banyak julukan. Ada yang menyebutnya julukannya pitung. Ada yang menyebutnya betung. Betung itu memiliki arti bamboo hitam. Dijuluki betung karna postur pitung yang kekar seperti bamboo betung (bamboo hitam).

Sebenarnya asli manakah pitung itu? Sampai saat ini tidak diketahui pasti asal muasal pitung. Tapi dapat dibuat perkiraan. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1886. Persitiwa itu terjadi di Jembatan. Sekarang jembatan itu diberi nama Jembatan Si Pitung lokasinya berada di jalan Bandengan. Si pitung menyeberang jembatan yang hanya bisa masuk satu badan. Jembatan satu badan.

Menjadi adat dimanapun juga jika ada yang masuk jembatan satu badan yang lain pun jangan masuk ke jembatan satu badan dari arah berlawanan jangan masuk. Pitung masuk pertama kali di Jembatan satu badan. Lalu Ada orang Cina (bahasa resminya adalah orang dari warga keturunan tionghoa) juga yang memaksa masuk jembatan satu badan tersebut.

Orang Cina (keturunan Tionghoa) tidak mau mengalah. Saat ingin menyeberang di Jembatan satu badan itu. Malah orang Cina (keturunan Tionghoa) itu menantang si Pitung dengan keahlian mistik. Orang Cina tersebut mengeluarkan keahlian mistiknya. Orang Cina (keturunan Tionghoa) memutarkan pantatnya dengan kekuatan mistiknya memutarkan pantatnya kedepan.

Melihat ulah orang Cina (keturunan Tionhoa) itu mengeluarkan ilmunya. Pitung sontak pun marah. Pitung keluarkan goloknya. Lalu orang cina (keturunan Tiong Hoa) mati. Tidak ada saksi yang melihat kejadian itu. Pitung menghilang.

Lalu si pitung tertangkap dan dibawa di bui Glodok. Bui Glodok adalah nama dari penjara  Belanda di Glodok. Penjara Belanda di Glodok saat ini adalah Harco di Glodok.

Kemudian pitung di sidang. Pada persidangan itu pitung tidak ada yang mau menjadi saksi pembunuhan pitung kepada orang Cina. Sehingga pitung diberi hukuman badan saja selama delapan tahun. Selanjutnya pitung dibuang ke bui master didaerah yang bernama Bukit Duri. Lalu pitung melakukan korespondensi dengan pengurus masjid Al-Atik melakukan surat menyurat.

Pitung bisa disimpulkan merupakan seorang yang berasal dari kampung Gusti. Kampung Gusti merupakan kampung orang-orang yang profesinya menulis. Kampung Gusti merupakan kampung yang tidak jauh dari terjadinya pembunuhan orang Cina (keturunan Tiong Hoa) di Jembatan sebadan Bandengan saat itu.

Pitung diberi kabar bahwa saudaranya JI’I mati dibunuh oleh demang Maester Kornelis Kebayoran. Demang tersebut membunuh Ji’I dengan motif mencari muka. Karna demang tersebut tahu bahwa Ji’I adalah saudaranya si Pitung. Pitung tahu kabar mati saudaranya itu dari pengurus masjid Al Atik melalui surat menyurat.

Ji’I saudara pitung ini merupakan seorang pedagang. Ji’I mati oleh demang Maester kornelis. Mendapatkan informasi bahwa saudaranya Ji’I mati. Pitung melarikan diri dari penjara. Pitung mencari keberadaan demang Maester Kornelis. Demang maester kornelis ditemukan oleh Pitung. Seihingga pitung menembak demang maester kornelis dengan beceng (senjata pitung berupa pistol namanya sibongkok).

Pitung menjadi buron. Beliau hidup berpindah-pindah. Dari kejadian itu membuat resah orang Belanda. Sehingga membuat orang-orang Belanda menjadi ketakutan. Karna tersiar informasi yang bermacam-macam tentang si Pitung.

Sampai kepala (schaut) Polisi Heyne Belanda saat itu memakai dukun. Mengkibatkan kemarahan penasehat Bumi Putra dari Belanda. Penasehat  bumi Putra itu mengatakan tidak ada orang Belanda main dukun.  Penasehat Bumi Putra ini menyurati Ratu Belanda bahwa yang dilakukan schaut Heyne ini tidak benar.

Pitung ditemukan oleh polisi Belanda. Belanda menabur para intel nya untuk mencari pitung. Diketahui pitung sering melintas Kalimalang menuju Pondok Kopi. Pitung dijegat oleh Schout Heyne. Selama pertemuan schout Heyne dengan Pitung yang dijegat. Pada saat menjegat pitung juga sudah membawa mobil Ambulance.

Schout Heyne tidak melupakan pesan dukun kepadanya. Jika ingin membunuh si Pitung harus menggunakan peluru emas. Schout Heyne menembakkan empat peluru. Salah satu peluru yang digunakan adalah peluru emas. Tapi saat ditembak pitung juga tidak langsung mati. Selanjutnya pitung dibawa kedalam mobil ambulance yang sudah dibawa sekaligus oleh Schout Heyne.

Pitung mengalami skaratul maut. Dalam penelitian Mahred Vantil. Dalam catatan-catatan kepolisian Belanda yag dikumpulkan oleh Mahred Vantil. Pitung menyanyi didalam ambulance. Diduga si pitung mengalami rumah tangga yang tidak Bahagia dari kedua orang tuanya. Menjadi anak broken home se hingga membuat pitung tidak Bahagia. Kehilangan amicemade.

Pitung pun bernyanyi nina bobo (Batavian lalabaye)saat skaratul maut. Dung indung. Sipitung mau bobo. Bobonye lagi dalam ayunan. Boboklah bobo. Sipitung mau bobo. Kalau tak bobo digigit nyamuk.

Schout Heyne pun marah melihat pitung bernyanyi. Sraaaah koe pitung. Kau menyanyi terus. Kau menyanyi terus. Seharusnya koe mengajukan permintaan terakhir. Mau minum apa? Mau makan apa? Bukan menyanyi terus kata Schout Heyne.

Pitung menginginkan Tuak Pakai es saat skaratul maut. Permohonan pitung itu dikabulkan oleh Schout Heyne. Schout Heyne menyuruh supir ambulan itu untuk mencari Tuak pakai es. Mobil ambulance berhenti dan menemukan penjual Tuak pakai Es. Pitung pun wafat saat tuak pakai es yang diminum nya belum habis.

Pada zaman itu minum pakai es sangat mewah. Siapapun yang minum pakai es dianggap sudah hebat. Karna kulkas saat itu sangat mahal. Tidak ada yang mampu membeli kulkas.

Ambulance yang membawa pitung langsung menuju ke Hospital Militer yang sekarang bernama RSPAD Gatot Soebroto. Empirik jenasah pitung yang tidak dikenal keluarganya. Lalu Siapapun pada waktu itu. Korban siapapun yang tidak dikenal. Langsung dikubur dipelataran RSPAD Gatot Subroto.

 

 

 

 

Sumber:

Mahrid Vantil yang diceritakan oleh babe Ridwan Saidi sang Budayawan Betawi.

Ditonton pada tanggal 10 September 2020

Di cenel macan idealis https://www.youtube.com/watch?v=GK8PhM0CXUU








#RSPAD #Betawi #Jakarta #Glodok #Belanda #Pitung #Polisi #sejarah #waktu #cina #Bandengan #kalimalang

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More