Wednesday, 4 November 2020
BUPENA Solusi Guru Gak Bisa Pakai Google
Saturday, 24 October 2020
MENEMPUH JALAN RAKYAT OLEH D.N AIDIT (PART 1)
MENEMPUH JALAN RAKYAT
OLEH D.N AIDIT
Buku yang berjudul menempuh jalan rakyat ini
merupakan sebuah pidato yang dilakukan oleh D.N Aidit dalam memperingati ulang
tahun PKI yang ke 32 tahun. Pada saat itu ulang tahun PKI jatuh pada tanggal 23
Mei 1952. Pidato ini diucapkan D.N Aidit pada malam hari. Beliau ucapkan pada tanggal
26 Mei di Gedung Pertemuan Umum, Jakarta.
Buku Ini saya ceritakan kembali sesuai dengan tata
bahasa Indonesia pada saat ini. Tidak ada yang saya lebih kan ataupun saya
kurangkan. Cover buku atau sampul depan buku ini bercorak kuning. Dengan tulisan
aslinya berjudul “Menempuh Djalan Rakjat” oleh D.N AIDIT.
Buku ini berjumlah 27 halaman. Halaman pertama berupa sampul buku yang
berwarna kuning. Halaman kedua berupa sampul
buku yang tercetak hitam dan putih. Pada halaman ketiga terdapat foto D.N Aidit
sebagai penggerak PKI dieranya.
Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Pembaruan Jakarta.
Tulisan asli tertera pada buku ini yaitu “Jajasan Pembaruan Djakarta”. Buku ini
merupakan cetakan kedua. Dengan Terdapat foto D.N Aidit pada lembar ketiganya. Buku
ini pernah dijual pada masanya seharga Rp.1.50 saja. Yayasan Pembaruan Jakarta saat
itu beralamat di Jalan Perunggu, Galur Jakarta.
Pada lembar keempat. Terdapat keterangan penerbit.
Penerbit buku Yayasan Pembaruan Jakarta mencoba memberikan keterangan tentang
buku yang dicetak kedua kali ini. Keterangan Penerbit buku tersebut sebagai
berikut.
Penerbitan “Menempuh Jalan Rakyat” ini adalah
cetakan yang ke II, untuk memenuhi permintaan yang selalu bertambah banyak.
Didalam Cetakan ke-II ini, oleh penulisnya sendiri telah diadakan perubahan
kecil-kecil disana-sini. Perubahan-perubahan ini sama sekali tidak membawa
perubahan ini, karena hanya berupa perubahan-perubahan susunan kalimat supaya
lebih jelas dan mudah dipahamkan.
Jika ditulis dalam bentuk asli pada buku
tersebut seperti ini:
|
KETERANGAN
PENERBIT
Penerbitan “Menempuh Djalan
Rakjat” ini adalah tjetakan jang ke-II untuk memenuhi permintaan jang
selalu bertambah banjak. Didalam tjetakan ke-II ini, oleh penulisnja sendiri
telah diadakan perubahan ketjil disana-sini. Perubahan-perubahan ini sama-seklai
tidak membawa perubahan ini, karena hanja berupa perubahan-perubahan susunan
kalimat supaja lebih jelas dan mudah difahamkan.
Penerbit. Djakarta, Agustus
1952
4 |
Nomor 4 pada bagian bawah. Nomor tersebut
menandakan berada pada halaman 4. Bisa dikatakan sebagai terdapat pada lembar
ke-4.
Untuk lebih jelasnya lagi silahkan ikuti blog
ini di www.lembarkerjasiswa123.blogspot.com
#PKI #Aidit #Jakarta #Indonesia
Thursday, 22 October 2020
TAN MALAKA, JALAN SUNYI TAMU DARI BAYAH
TAN MALAKA
JALAN SUNYI TAMU DARI BAYAH
Ia memperkenalkan dirinya sebagai Ilyah Hussein. Datang dari Bayah, Banten Selatan, pria paruh baya itu bertamu ke rumah Sukarni di Jalan Minangkabau, Jakarta, awal Juni 1945. Disana ada Chaerul Saleh, B.M Diah, Anwar, dan Harsono Tjokroaminoto. tamu jauh itu hendak menghadiri kongres pemuda di Jakarta.
Memakai baju kaus, celana pendek hitam, dan topi perkebunan ditenteng di tangan, tamu itu disambut tuan rumah. Setelah sedikit basa-basi, Hussein menyampaikan analisisnya tentang kemerdekaan dan politik saat itu. Situasi memang lagi genting. Penjajah Jepang sudah di tubir jurang.
Ulasan Hussein tentang proklamasi membuat Sukarni terpukau. Pikiran Hussein sama dengan tulisan-tulisan Tan Malaka yang selama ini dipelajari Sukarni. Setelah mendengar analisis Hussein, Sukarni makin mantap: proklamasi harus segera diumumkan.
Sejarah mencatat, Hussein adalah Ibrahim Sutan Datuk Tan Malaka yang tengah menyamar. Sejak awal Sukarni curiga, tamunya tak mungkin hanya orang biasa-meski ia tak berani bertanya. "Ia heran, bagaimana mungkin orang sekaliber Hussein hidup diwilayah terpencil, "kata sejarawan Belanda Harry A. Poeze.
Karni malah waswas. "Ia takut kalau Hussein mata-mata Jepang, "Kata Anwar Bey, bekas wartawan Antara dan koresponden Buletin Murba. Kekhawatiran yang campur aduk memaksa Sukarni memindahkan rapat ke rumah Maruto Nitimiharjo di Jalan Bogor lama-sekarang jalan Saharjo Jakarta Selatan. Sebelum pergi, Sukarni meminta tamunya menginap satu malam. Hussein tidur dikamar belakang.
Pada saat rapat, analisis Hussein mempengaruhi pikiran Sukarni. Ide-ide Hussein dilontarkannya dalam rapat. "Sukarni mendesak proklamasi jangan ditunda, " kata Adam Malik. Para Pemuda setuju.
Sepulang rapat, Sukarni masih pensaran pada Hussein. Tapi lagi-lgi ia ragu bertanya. Sukarni baru bertemu besok paginya ketika tamunya mau pulang. "Ia berpesan gara Hussein mempersiapkan pemuda Banten menyongsong proklamasi,"Kata Anwar Bey.
Kesaksian itu terungkap pada saat Sukarni memberikan sambutan dalam acara Sewindu Hilangnya Tan Malaka di Restoran Naga Mas, Bandung, Februari 1957. Anwar Bey malam itu hadir di sana.
Dari pertemuan itu, Tan sendiri menafsirkan, Chaerul dan Sukarni mengenal ide-ide politiknya. Tapi ia belum berani membuka jati diri. "Saya masih menunggu kesempatan yang lebih tepat. "katanya dalam memoar Dari Penjara Ke Penjara.
Ia lalu pulang ke Bayah, kembali bekerja sebagai juru ketik. Nama Hussein tetap digunakan. Saat itu usianya 48 tahun.
Hussein kembali muncul di Jakarta pada 6 Agustus 1945. Ia membawa tas. Isinya celana pendek selutut, kemeja, dan kaus lengan panjang kumal. Kali ini yang dituju rumah B.M Diah, Ketua Angkatan Baru, yang juga redaktur koran Asia Raya, satu-satunya koran ynag terbit di Jakarta.
Utusan Bayah itu menanyakan kabar mutakhir situasi perang. Setelah satu jam Diah memberikan infomasi, Hussein menyatakan pendapatnya. "Pimpinan revolusi kemerdekaan harus di tangan pemuda, "katanya.
Tapi hubungan Hussein dengan Diah berlangsung singkat. Besoknya Diah ditangkap Jepang gara-gara menuntut kemerdekaan dan menentang sikap lunak Soekarno-Hatta. Tahu Diah ditangkap, Hussein pulang ke Bayah.
Disana ia terus bergerak. Tiga hari kemudian dia terlibat rapat rahasia dengan para pemuda Banten di Rangkasbitung. Pertemuan satu setengah jam itu di gelar di rumah M. Tachril, pegawai Gemeenschappelijk Electriciteitsbedrjf Bandoengen Omstreken-Gabungan Perusahaan Listrik Bandung dan Sekitarnya.
Di sini Hussein mengobarkan pidato yang menggelora "Kita bukan kolaborator!" katanya. "Kemerdekaan harus di rebut kaum pemuda, jangan sebagai hadiah". Kekalahan Jepang, menurut dia, tinggal menunggu waktu.
Pidato itu dilukiskan Poeze dalam bukunya Verguisd en Vergeten Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. "Sebagai rakyat Banten dan pemuda yang telah siap merdeka, kami bersumpah mewujudkan proklamasi itu, "kata Hussein di ujung pidatonya.
Bila Soekarno-Hatta tidak mau menandatangani, Hussein memberikan jawaban tegas: "Saya sanggup menandatanganinya, asal seluruh rakyat dan bangsa Indonesia menyetujui dan mendukung saya".
Hussein di ututs kembali ke Jakarta. Ia diminta menjalin kontak dengan Sukarni dan Chaerul Shaleh. Peserta rapat mengantarkannya ke Stasiun Saketi, Pandeglang. Hussein naik kereta ke Jakarta.
***
Situasi Jakarta tidak menentu. Kebenaran dan desas-desus berkelindan satu sama lain. Kempetai, polisi militer Jepang mengintai di mana-mana. Para pemuda bergerak di bawah tanah, bersembunyi dari satu rumah ke rumah lain. Usaha Tan Malaka menjalin kontak dengan pemuda tak kesampaian.
Kesulitan Tan bertambah karena kehadirannya tempo hari di rumah Sukarni menyebar dan menjadi pergunjingan. Para pemuda bingung siapa sebenarnya Ilyas Hussein. Karena itu para pemuda jaga jarak bila Hussein muncul.
Peluang Tan menjalin kontak kian teruk karena sikap hati-hatinya yang berlebihan. Sebagai bekas orang buangan dan lama dalam hidup pelarian, Hussein merasa di bawah bayang-bayang penangkapan.
Tan akhirnya berhasil menemui Sukarni di rumahnya pada tanggal 14 Agustus sore. Ia mengusulkan agar massa pemuda dikerahkan. Tapi Sukarni sibuk. Di rumah itu banyak orang keluar-masuk. Banyak pula hal yang disembunyikannya, termasuk berita takluknya Jepang.
Ia juga khawatir rumahnya digerebek Kempetai. Itu sebabnya, Sukarni pergi meninggalkan Hussein. Seperti sebelumnya, ia diminta menunggu di kamar belakang. Kali ini bersama dua orang yang tak dikenal.
Salah satunya Khalid Rasyidi, aktivis oeuda menteng 31. Menurut Khalid, Hussein sempat bertanya di mana tempat penyimpanan senjata jepang. "Ia menganjurkan perampasan senjata dalam rangka perjuangan kemerdekaan", kata Khalid dalam ceramah di Gedung Kebangkitan Nasional, Agustus 1978.
Khalid juga yakin, Sukarni sudah tahu bahwa Hussein tak lain Tan Malaka. Soalnya, sebelum Khalid diminta menemui utusan Banten itu, Sukarni agak lama menunjukkan orang-orang pergerakan. "Diantaranya foto Tan Malaka waktu masih muda, "kata Khalid Poeze menyangsikan hal itu. Menurut dia, Sukarni hanya menduga-duga.
Malam itu Sukarni sempat pulang. Tapi setelah itu menghilang. Hussein besoknya berusaha menemui Chaerul Saleh di jalan Pegangsaan Barat 30, tapi Chaerul tidak ada dirumah karena di sepanjang jalan santer terdengar kabar Jepang menyerah perang, Hussein kembali ke rumah Sukarni. Tapi usahanya sia-sia.
Hussein tidak tahu, Sukarni dan Chaerul akan menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Aksi itu dilakukan karena Soekarno-Hatta ngotot proklamasi dilakukan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sedangkan pemuda ingin merdeka tanpa campur tangan Jepang. Setelah berdebat di Rengasdengklok, Soekarno-Hatta bersedia meneken proklamasi. Teks proklamasi disiapkan di rumah Laksamana Maeda.
Naskah itu besoknya dibacakan di perkarangan rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56. Upacara berlangsung singkat. Penguasa Militer Jepang melarang berita proklamasi meluas di radio dan surat kabar. Itu sebabnya, Tan tidak tahu ada proklamasi. Ia tahu setelah orang ramai membicarakannya di jalan-jalan.
Terbatasnya peran Tan itu, kata Poeze, sungguh ironis. Padahal Tan orang Indonesia pertama yang menggagas konsep republik dalam buku Naar de Republik Indonesia, yang ditulis pada 1925. Buku kecil ini kemudian menjadi pegangan politik tokoh pergerakan, termasuk Soekarno.
Dalam buku Riwayat Proklamasi Agustus 1945, Adam Malik melukskan peristiwa itu sebagai "kepedihan riwayat". Sukarni bertahun-tahun membaca buku politik Tan. Tapi pada saat itu ia membutuhkan pikiran dari orang sekaliber Tan, Sukarni sungkan bertanya siapa Hussein sesungguhnya. "Ia malah membiarkannya pergi jalan kaki, lepas dari pandangan mata", kata Adam Malik.
Tan juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Rupanya sejarah proklamasi 17 Agustus tidak mengizinkan saya campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah tidak mempedulikan penjelasan seorang manusia atau segolongan manusia.
Setelah proklamasi, Tan berusaha menemui pemuda. Tapi mereka terus bergerak di bawah tanah. Pada 25 Agustus Tan akhirnya datang ke rumah Ahmad Soebardjo di Jalan Cikini Raya 82. Keduanya pernah bertemu di Belanda apada tahun 1919. "Pembantu kami mengatakan ada tamu ingin berjumpa", kata Soebardjo. Tamu itu duduk di pojok ruangan.
Soebardjo kaget. "Wah, kau Tan Malaka", katanya. "Saya kira sudah mati". Tan menjawab sambil tertawa. "alang-alang tak akan musnah kalau tidak dicabut dengan akar-akarnya". Setelah sempat bersenda-gurau, Soebardjo menawari Tan tinggal di paviliun rumahnya.
Sejak itu Tan diperkenalkan kepada beberapa tokoh seperti Iwa Koesoema Soemantri, Gatot Taroenamihardjo, Boentaran Martoatmojo. Ia juga dipertemukan Nishijima Shigetada, Asisten Laksamana Maeda. Di didepan Nishijima, ia bicara tentang revolusi, struktur politk, gerakan massa, hingga propaganda.
Nishijia terheran-heran. "Bagaimana mungkin orang yang tampak seperti petani ini bisa menganalisis segala-galanya dengan begitu tajam", katanya. Setelah lebih dari dua jam berbincang, Soebardjo menjelaskan bahwa kawannya ini tak lai Tan Malaka. Nishijima terkejut. Ia bangkit lalu menjabat tangan lebih erat.
Kepada Tamunya, Soebardjo meminta keberadaan Tan dirahasiakan. Sepekan menetap di rumah Soebardjo, lewat perantara Nishijima, Tan pindah ke rumah pegawai angkatan laut Jepang di jalan Theresia. Ia sempat ke Banten membangun jaringan gerilya, lalu balik ke Jakarta. Pada pekan kedua September, ia pindah ke Kampung Cikampek, 18 kilometer sebelah barat Bogor. Sejak itu bolak-balik ke Jakarta.
Di Jakarta, kaum pemuda terus bergerak. mereka melihat pemerintah tidak bekerja mengisi kemerdekaan meski kabinet telah dibentuk. "Mereka cuma kumpul-kumpul di gedung Pegangsaan', kata Adam malik. "Seperti tidak ada rencana".
itu sebabnya, sebagian pemuda mengusulkan demostrasi. Tapi sebagian lain ingin membentuk Palang Merah dan mengurus tawanan Perang. pemuda yangberkumpul di Jalan Prapatan 10, sekarang jalan Kwitang, terbelah.
Pemuda prodemonstrasi meninggalkan Jalan Prapatan menuju menteng 31. "Ini kesempatan kita mempraktekkan Massa Actie', kata Sukarni mengutip buku Tan yang menjadi pegangan pemuda. Setelah itu mereka membentuk Komite van Actie. Komite ini mengambil sarana transportasi dan mengibarkan bendera Merah-Putih, dimana-mana.
Karena kabinet belum ada kegiatan, Soebarjo-saat itu sudah Menteri Luar Negeri-meminta nasihat Tan yanglalu mengusulkan agar propaganda dilakukan lewat semboyan-semboyan. "Tan ikut mengusulkan kata-katanya", Hardidjojo Nitimihardjo, putra Maruto. Semboyan itu ditulis pemuda di tembok-ditembok, mobil, dan kereta api hingga tersebebar ke luar Jakarta, dibuat dalam bahasa Indoensia dan Inggris agar menarik perhatan dunia.
Sejak itu Soekarno mendengar kemunculan Tan. Ia meminta Sayuti Melik mencarinya. Dua tokoh itu akhirnya diam-diam bertemu dua kali pada awal September 1945. Pertemuan itu menjadi rahim lahirnya testamen politik. Isinya: "Bila Soekarno-Hatta tidak berdaya lagi, pimpinan perjuangan akan diteruskan oleh Tan, Iwa Koesoema, Sjahrir, dan Wongsonegoro".
Kasak-kusuk kehadiran Tan makin santer. Para pemuda membicarakannya di Menteng 31. Tan saat itu tinggal dirumah Pak Karim, tukang jahit di Bogor. Sukarni dan Adam Malik mencarinya ke sana. Mereka berhasil bertemu, tapi ragu identitas Tan. "Apalagi saat itu banyak muncul Tan Malaka palsu", kata hadidjojo.
Untuk memastikan, para pemuda membawa Soediro-kenalan Tan di Semarang pada 1992-beberapa hari kemudian Sesudah itu mereka membawa guru Halim, teman sekolah tan di Bukittinggi. Tan Juga di cecar soal Massa Actie karena banyak Tan Malaka palsu tidak bisa menjelaskan isi buku tersebut.
Maruto behkan menyrankan agar pemuda tidak begitu saja mempercayai Tan. Ia rupanya mendengar Tan sudah bertemu Soekarno. Tapi setelah mendengar kata-kata Tan kaum pemuda yakin tokoh legendaris itu anti-fasis.
Tan juga sepakat dengan aksi pemuda Menteng 31. "Ia mengusulkan demonstrasi yang lebih besar', kata Hadidjojo. Demontrasi digelar untuk mnegukur seberapa kuat rakyat mendukung proklamasi. Ide ini melecut pemuda menggelar rapat akbar di lapangan Ikada. "Tan berada di balik layar". Kata Poeze.
pemuda mendapat kuliah dari Tan tentang perjuangan rovolusioner. Persinggungan pemuda dengan Tan berlangsung anatara 8 dan 15 September 1945. Sekelompok pemuda, antara lain Abidin Effendi, Hamzah Tuppu, Pandu kartawiguna, dan Syamsu Harya Udaya, diperkenalkan kepada Tan. Sukarni lalu mengirim Hamzah, Syamsu, dan Abidin ke Surabaya untuk mengoganisasi para pelaut.
Di Jakarta, kelompok pemuda menggelar rapat. mereka menyiapkan demonstrasi pada 17 September-tepat sebulan setelah proklamasi. Tapi unjuk rasa diundur dua hari. Ada anekdot, tanggal itu dipilih karena para pemuda jengkel dimaki-maki Bung Karno bulan sebelumnya. "Bung Karno marah kepada pemuda karena pemuda menggelar pawai di Taman Matraman pakai obor dua hari setelah proklamasi', kata Hadidjodjo mengutip Maruto, ayahnya.
Pamflet aksi disebar dan ditempel di mana-mana, Sukarni keluar-masuk kampung, menemui kepala desa, tokoh masyarakat, pemuda, hingga kiai, agar datang ke Lapangan Ikada. Mahasiswa meminta Soekarno hadir juga. Tapie presiden pertama itu menolak.
Pada hari yang ditentukan, massa berbondong-bondong datang. Senapan mesin Jepang dibidikkan ke arah kerumunan. Tapi gelombang massa terus berdatangan. Jumlahnya diperkirakan 200 ribu. Di bawah terik, mereka menunggu berjam-jam. Salah satu yang hadir almarhum Pramoedya Ananda Toer. "Itulah pertama kali saya saksikan orang Indonesia tidak takut lagi pada Dai Nippon", kata Pram, saat itu berusia 20 tahun.
Sementra sidang kabinet pagi itu terbelah. Sebagian menteri setuju hadir di Ikada. Sedangkan yang menolak takut ada pertumpahan darah. Rapat berjalan alot. Pukul empat asore, Soekarno memutuskan datang menentramkan rakyat yang sudah menunggu berjam-jam. "Saya tidak akan memaksa. Menteri yang mau tinggal dirumah silahkan", Katanya.
Rombongan Soekarno-Hatta pergi menuju Ikada. Poeze menduga, Tan Malaka ikut dalam rombongan. "Ia satu-satunya yang memakai topi, jalan berdampingan dengan Soekarno menuju podium", kata Poeze.
Di mimbar Soekarno berpidato lima menit suaranya lunak. Ia meminta rakyat tetap tenang dan percaya pada pemerintah, yang akan mempertahankan proklamasi. Massa diminta pulang. Setelah itu, barisan bubar meninggalkan lapangan.
Hasil demonstrasi itu menyesakkan Tan. Pidato itu, katanya, tidak menggemborkan semangat berjuang. "Tidak mencerminkan massa aksi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Sumber :
Buku Tan Malaka Bapak Republik Yang dilupakan Seri buku saku tempo Hal. 14 - 26
#Soekarno #Hatta #Proklamasi #RI #Indonesia #Sukarni #Jepang #Hussein #Tan #Sjahrir #Wongsonegoro #Hadidjojo #Menteng #Belanda #Malaka #sejarah #Soebarjo #Inggris #demonstrasi #matraman #Jakarta #Soerabaya #PKI #Jakarta
Wednesday, 21 October 2020
TAN MALAKA, DIA YANG MAHIR DALAM REVOLUSI
TAN MALAKA
DIA YANG MAHIR DALAM REVOLUSI

Hatinya terlalu teguh untuk berkompromi. Maka ia berburu polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika, dan Jepang di 11 negara demi cita-cita utama; kemerdekaan Indonesia.
Ia, Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya "Bapak Republik Indonesia". Soekarno menyebutnya "seorang yang mahir dalam revolusi'. Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.
Ia seorang yag telah melukis revolusi Indonesia dengan bergelora.Namanya Tan Malaka, atau Ibrahim Datuk Tan Malaka, dan kini mungkin dua-tiga generasi melupakan sosoknya yang lengkap ini: kaya gagasan filosofis, tapi lincah berorganisasi.
Orde baru telah melebur hitam peran sejarahnya. Tapi harus diakui, di mata sebagian anak muda, Tan mempunyai daya tarik yang tak tertahankan. Sewaktu Soeharto berkuasa, menggali pemikiran serta langkah-langkah politik Tan sama seperti membaca novel-novel Pramoedya Ananda Toer. Buku-bukunya disebarluaskan lewat jaringan klandestin. Diskusi yang membahas alam pikirannya dilangsungkan secara berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI)., sosoknya sering kali dihubungkan dengan PKI: musuh abadi Orde Baru.
Perlakuan Serupa menimpa Tan di Masa Soekarno berkuasa. Soekarno, melalui kabinet Sjahrir, memenjarakan Tan selama dua setengah tahun, tanpa pengadilan. Perseteruannya dengan para pemimpin pucuk PKI membuat ia terlempar dari lingkaran kekuasaan. Ketika PKI akrab dengan kekuasaan, Bung Karno memilih Muso-orang yang telah bersumpah menggantung Tan karena pertikaian internal partai-ketimbang Tan. Sedangkan D.N Aidit memburu testamen politik Soekarno kepada Tan. Surat wasiat itu berisi penyerahan kekuasaan kepemimpinan kepada empat nama-salah satunya Tan- apabila Soekarno ditangkap. Akhirnya Sokarno sendiri membakar testamen tersebut. Testamen itu berbunyi: "..Jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusi Tan Malaka.
Politik memang kemudian menenggelamkannya. Di Bukit Tinggi, dikampung halamannya, Nama Tan Cuma di dengar sayup-sayup. Ketika harry Albert Poeze, sejarawan belanda yang meneliti Tan sejak tahun 1972 mendatangi Sekolah Menengah Atas 2 Bukit Tinggi, guru-guru sekolah itu terkejut. Sebagian guru tak tahu Tan Pernah mengenya pendidkan di sekolah yang dulu bernama Kweeschool (sekolah Guru) itu pada 1907-1913. Sebagian lain justru tahu dari murid yang rajin berselancar di Ineternet. Mereka masih tak yakin, sampai kemudian Poeze datang. Poeze pun menemukan prasasti Engku Nawawi Sutan Makmur, guru Tan, tersembunyi dibalik lemari sekolah.
Disepanjang hidupnya, Tan telah menempuh pelbagai royan: dari masa akhir Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik hingga Perang Dunia II. Di kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandan Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 ini merupakan tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta sebagai pleidoi didepan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).
Buku Naar De Republik dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemudaradikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Waktu itu Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung. Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantara menyimpan buku dikutip Bung Karno dalam Pledoinya, Indonesia Menggugat.
W.R Supratman pun telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukkan kalimat "Indonesia tanah tumpah darahku" kedalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari massa actie, pada bab bertajuk "Khayal Seorang Revolusioner". Disitu Tan antara lain menulis, "Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri .... kewajiban seorang yang tahu kewajiban putra tumpah darahnya.
Di seputar Proklamasi, tan menorehkan perannya yang penting. Ia menggerakkan para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan IKADA (Kini Kawasan Monas), 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan "masih sebatas catatan di atas kertas". Tan menulis aksi itu " uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan". Stelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan gencar.
Kehadiran Tan di Lapangan Ikada menjadi cerita menarik tersendiri. Poeze bertahun-tahun mencari bukti kehadiran Tan itu. Sahabat-sahabat Tan, seperti Sayuti Melik, bekas menteri Luar negeri Ahmad Soebardjo, dan mantan Wakil Presiden Adam Malik, telah memberikan kesaksian. tapi kesaksian itu harus didukung bukti visual. Dokumen foto peristiwa itu tak banyak. Memang ada rekaman film dari Berita Film Indonesia. Namun mencari seorang Tan di tengah kerumunan sekitar 200 ribu orang dari pelbagai daerah bukan perkara mudah.
Poeze mengambil jalan berputar. ia menghimpun semua ciri Khas Tan dengan mencari dokumen di delapan dari 11 negara yang pernah didatangi Tan, misalnya selalu memakai topi perkebunan sejak melarikan diri di Filipina (1925-1927). Ia cuma membawa paling banyak dua setel pakai. Dan sejak keterlibatan dalam gerakan buruh di Bayah, Banten pada 1940-an. Ia selalu memakai celana selutut. Ia juga selalu duduk menghadap jendela setiap kali berkunjung kesebuah rumah. Ini Untuk mengantisipasi jika polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika tiba-tiba datang menggerebek. Ia memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer-dua kali jarak yang ditempuh Che Guevara di Amerika Latin.
Satu lagi bukti yang mesti dicari: berapa tinggi Tan sebenarnya? di Buku Dari Penjara ke Penjara II. Tan bercerita ia dipotret setelah cukur rambut dalam tahanan di Hongkong. "Sekonyong-konyong tiga orang memegang kuat tangan saya dan memegang jempol saya buat diambil kuat tangan saya dan memegang Jempol saya buat diambil capnya. Semua dilakukan serobotan,"ucap Tan. Dari buku ini Poeze pun mencari dokumen tinggi Tan dari arsip polisi Inggris yang menahan Tan di Hongkong. Eureka! Tinggi Tan ternyata 165 centimeter. Lebih pendek daripada Soekarno (172 centimeter). dari ciri-ciri itu, Poeze menemukan foto Tan terbukti berada dilapangan tiu dan menggerakkan pemuda.
Tan tak pernah menyerah. Mungkin itulah yang membuatnya sangat sangat kecewa dengan Soekarno-Hatta yang memilih berunding dan kemudian ditangkap Belanda. Menurut Poeze, tan berkukuh, sebagai pemimpin revolusi Soekarno semestinya mengedepankan perlawanan gerilya ketimbang menyerah. Baginya, perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan Indonesia 100 persen dari Belanda dan Sekutu. tanpa itu nonsens.
Sebelum melawan Soekarno, Tan pernah melawan dalam kongres Komunis Internasional di Moskow pada 1922. Ia mnegungkapkan gerakan komunis di Indonesia tak akan berhasil mengusir kolonialisme jika tak bekerja sama dengan Pan-Islamisme. Ia juga menolak rencana kelompok Prambanan menggelar pemberontakan PKI 1926/1927. Revolusi, kata Tan, tak dirancang berdasarkan logistik belaka, apalagi dengan bantuan dari luar seperti Rusia, tapi pada kekuatan massa. Saat itu otot revolusi belum terbangun baik. Postur kekuatan komunis masih ringkih. "Revolusi bukanlah sesuatu yang dikarang dalam otak," tulis Tan. Singkat kata, rencana pemberontakan itu tak matang.
Penolakan ini tak urung membuat Tan disingkirkan para pemimpin parta. Tapi, bagi Tan, partai bukanlah segala-galanya. jauh lebih penting dari itu: kemerdekaan nasional Indonesia. Dari sini kita bisa membaca watak dan orientasi penulis Madilog ini. Ia seorang Marxis, tapi sekaligus nasional. Ia seorang komunis, tapi kata Tan, "Di depan Tuhan saya seorang muslim" (siapa sangka ia hafal Al-Quran sewaktu muda). Perhatian utamanya adalah menutup buku kolonialisme selama-lamanya.
***
hal. 1-8 buku Tan Malaka Bapak Republik Yang Dilupakan (Tempo seri saku)
#Tan #Malaka #Indonesia #PKI #Belanda #Jepang #NKRI #Soekarno #Hatta #Sjahrir #Soeharto #Belanda #Inggris #Amerika #Jepang #Republik #Revolusi #Aidit #Banten #Komunis #Karno #Quran #Marxis #madilog #Rusia #Filipina #IKADA #Monas #Supratman #kemerdekaan #madilog
Saturday, 10 October 2020
PITUNG ITU SOLIHUN?
PITUNG ITU SOLIHUN?
Pitung
merupakan tokoh Betawi. Cerita tentang pitung banyak sekali kontroversinya. Ada
yang bilang pitung merampok. Ada yang bilang pitung itu jawara. Ada yang bilang
pitung terpelajar. Ada yang bilang sosok pitung itu ada 7 orang. Ada yang
bilang pitung itu jagoan.
Jadikah
siapakah pitung itu? Untuk membicarakan pitung. Sudah seharusnya cerita pitung
itu memiliki rujuan yang dapat dipertanggung jawabkan. Rujukan yang dapat
dipertanggungjawabkan itu hanya ada satu. Rujukan tersebut berasal dari mahred Vantil. Mahred Vantil berhasil menemukan korespondensi pitng dengan pengurus
Masjid Al-atik Bukit Duri. Hal itu ditemukan saat pitung masih di penjara Bukit
Duri.
Korespondensi
itu menemukan fakta bahwa nama pitung itu adalah Solihun. Pitung itu adalah
julukan yang bernama Solihun. Pada abad 19 terdapat nama Solihun itu cuku unik
dan jarang. Dan pada abad 19 nama orang dibetawi pada saat itu biasanya nama
yang mudah diucapkan. Contohnya seperti nama engkik.
Pitung itu
adalah julukan. Namanya yang sebenarnya adalah Sholihun. Jika dilihat sumber
koran-koran Belanda memiliki banyak julukan. Ada yang menyebutnya julukannya
pitung. Ada yang menyebutnya betung. Betung itu memiliki arti bamboo hitam.
Dijuluki betung karna postur pitung yang kekar seperti bamboo betung (bamboo
hitam).
Sebenarnya
asli manakah pitung itu? Sampai saat ini tidak diketahui pasti asal muasal
pitung. Tapi dapat dibuat perkiraan. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1886.
Persitiwa itu terjadi di Jembatan. Sekarang jembatan itu diberi nama Jembatan
Si Pitung lokasinya berada di jalan Bandengan. Si pitung menyeberang jembatan
yang hanya bisa masuk satu badan. Jembatan satu badan.
Menjadi
adat dimanapun juga jika ada yang masuk jembatan satu badan yang lain pun jangan
masuk ke jembatan satu badan dari arah berlawanan jangan masuk. Pitung masuk
pertama kali di Jembatan satu badan. Lalu Ada orang Cina (bahasa resminya
adalah orang dari warga keturunan tionghoa) juga yang memaksa masuk jembatan
satu badan tersebut.
Orang Cina
(keturunan Tionghoa) tidak mau mengalah. Saat ingin menyeberang di Jembatan
satu badan itu. Malah orang Cina (keturunan Tionghoa) itu menantang si Pitung
dengan keahlian mistik. Orang Cina tersebut mengeluarkan keahlian mistiknya. Orang
Cina (keturunan Tionghoa) memutarkan pantatnya dengan kekuatan mistiknya
memutarkan pantatnya kedepan.
Melihat
ulah orang Cina (keturunan Tionhoa) itu mengeluarkan ilmunya. Pitung sontak pun
marah. Pitung keluarkan goloknya. Lalu orang cina (keturunan Tiong Hoa) mati. Tidak
ada saksi yang melihat kejadian itu. Pitung menghilang.
Lalu si
pitung tertangkap dan dibawa di bui Glodok. Bui Glodok adalah nama dari
penjara Belanda di Glodok. Penjara
Belanda di Glodok saat ini adalah Harco di Glodok.
Kemudian
pitung di sidang. Pada persidangan itu pitung tidak ada yang mau menjadi saksi
pembunuhan pitung kepada orang Cina. Sehingga pitung diberi hukuman badan saja
selama delapan tahun. Selanjutnya pitung dibuang ke bui master didaerah yang
bernama Bukit Duri. Lalu pitung melakukan korespondensi dengan pengurus masjid
Al-Atik melakukan surat menyurat.
Pitung bisa
disimpulkan merupakan seorang yang berasal dari kampung Gusti. Kampung Gusti
merupakan kampung orang-orang yang profesinya menulis. Kampung Gusti merupakan
kampung yang tidak jauh dari terjadinya pembunuhan orang Cina (keturunan Tiong
Hoa) di Jembatan sebadan Bandengan saat itu.
Pitung
diberi kabar bahwa saudaranya JI’I mati dibunuh oleh demang Maester Kornelis
Kebayoran. Demang tersebut membunuh Ji’I dengan motif mencari muka. Karna
demang tersebut tahu bahwa Ji’I adalah saudaranya si Pitung. Pitung tahu kabar
mati saudaranya itu dari pengurus masjid Al Atik melalui surat menyurat.
Ji’I
saudara pitung ini merupakan seorang pedagang. Ji’I mati oleh demang Maester kornelis.
Mendapatkan informasi bahwa saudaranya Ji’I mati. Pitung melarikan diri dari
penjara. Pitung mencari keberadaan demang Maester Kornelis. Demang maester
kornelis ditemukan oleh Pitung. Seihingga pitung menembak demang maester
kornelis dengan beceng (senjata pitung berupa pistol namanya sibongkok).
Pitung
menjadi buron. Beliau hidup berpindah-pindah. Dari kejadian itu membuat resah
orang Belanda. Sehingga membuat orang-orang Belanda menjadi ketakutan. Karna
tersiar informasi yang bermacam-macam tentang si Pitung.
Sampai
kepala (schaut) Polisi Heyne Belanda saat itu memakai dukun. Mengkibatkan
kemarahan penasehat Bumi Putra dari Belanda. Penasehat bumi Putra itu mengatakan tidak ada orang Belanda main dukun. Penasehat Bumi Putra
ini menyurati Ratu Belanda bahwa yang dilakukan schaut Heyne ini tidak benar.
Pitung
ditemukan oleh polisi Belanda. Belanda menabur para intel nya untuk mencari
pitung. Diketahui pitung sering melintas Kalimalang menuju Pondok Kopi. Pitung
dijegat oleh Schout Heyne. Selama pertemuan schout Heyne dengan Pitung yang
dijegat. Pada saat menjegat pitung juga sudah membawa mobil Ambulance.
Schout
Heyne tidak melupakan pesan dukun kepadanya. Jika ingin membunuh si Pitung
harus menggunakan peluru emas. Schout Heyne menembakkan empat peluru. Salah
satu peluru yang digunakan adalah peluru emas. Tapi saat ditembak pitung juga
tidak langsung mati. Selanjutnya pitung dibawa kedalam mobil ambulance yang
sudah dibawa sekaligus oleh Schout Heyne.
Pitung
mengalami skaratul maut. Dalam penelitian Mahred Vantil. Dalam catatan-catatan
kepolisian Belanda yag dikumpulkan oleh Mahred Vantil. Pitung menyanyi didalam
ambulance. Diduga si pitung mengalami rumah tangga yang tidak Bahagia dari
kedua orang tuanya. Menjadi anak broken home se hingga membuat pitung tidak
Bahagia. Kehilangan amicemade.
Pitung pun
bernyanyi nina bobo (Batavian lalabaye)saat skaratul maut. Dung indung.
Sipitung mau bobo. Bobonye lagi dalam ayunan. Boboklah bobo. Sipitung mau bobo.
Kalau tak bobo digigit nyamuk.
Schout Heyne
pun marah melihat pitung bernyanyi. Sraaaah koe pitung. Kau menyanyi terus. Kau
menyanyi terus. Seharusnya koe mengajukan permintaan terakhir. Mau minum apa?
Mau makan apa? Bukan menyanyi terus kata Schout Heyne.
Pitung
menginginkan Tuak Pakai es saat skaratul maut. Permohonan pitung itu dikabulkan
oleh Schout Heyne. Schout Heyne menyuruh supir ambulan itu untuk mencari Tuak
pakai es. Mobil ambulance berhenti dan menemukan penjual Tuak pakai Es. Pitung
pun wafat saat tuak pakai es yang diminum nya belum habis.
Pada zaman
itu minum pakai es sangat mewah. Siapapun yang minum pakai es dianggap sudah
hebat. Karna kulkas saat itu sangat mahal. Tidak ada yang mampu membeli kulkas.
Ambulance
yang membawa pitung langsung menuju ke Hospital Militer yang sekarang bernama
RSPAD Gatot Soebroto. Empirik jenasah pitung yang tidak dikenal keluarganya. Lalu
Siapapun pada waktu itu. Korban siapapun yang tidak dikenal. Langsung dikubur
dipelataran RSPAD Gatot Subroto.
Sumber:
Mahrid Vantil yang diceritakan oleh babe Ridwan Saidi sang Budayawan Betawi.
Ditonton
pada tanggal 10 September 2020
Di cenel macan
idealis https://www.youtube.com/watch?v=GK8PhM0CXUU
#RSPAD #Betawi #Jakarta #Glodok #Belanda #Pitung #Polisi #sejarah #waktu #cina #Bandengan #kalimalang
Wednesday, 12 December 2018
NAMA-NAMA TEMPAT DAN JALAN YANG DITELUSURI BAGIAN I
Sebelum dibangun kanal untuk menghubungkan Kota Batavia, pemerintah VOC membuat Terusan Ancol yang sampai sekarang masih dapat dilayari perahu. Kemudian dibangun pula jalan yang sejajar dengan terusan. Dianggap strategis dalam rangka pertahanan kota Batavia, maka dibuatlah terusan, jalan, dan kanal di Ancol.
Letak strategis kawasan Ancol rupanya sudah dimanfaatkan jauh sebelum kedatangan VOC, yaitu pada masa agama Islam mulai tersebar didaerah pesisir Kerajaan Sunda. Dalam koropok 406, Carita Parahiyangan, Ancol disebut-sebut sebagai salahsatu lokasi medan perang, disamping Kalapa, Tanjung, Wahanten (Banten), dan tempat-tempat lainnya pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa (1523-1535).
Thursday, 8 November 2018
NAMA-NAMA TEMPAT DARI MASA KEMASA BAGIAN I
Sumber :
Dari Buku ASAL-USUL NAMA TEMPAT di JAKARTA dengan penulis buku Rachmat Ruchiat
Sunday, 4 November 2018
SEKILAS RIWAYAT DARI KALAPA SAMPAI JAKARTA BAGIAN 2
Trenggana segera mengirim armadanya dibawah pimpinan Fatahillah, sasaran utamanya adalah Banten pintu masuk Selat Sunda. Dalam Carita Parahiyangan Pasukan Kesultanan Demak berhasil menguasai Sunda Kalapa yang didukung oleh penguasa Cirebon, Syarif Hidayatullah, yang telah wafat lebih dikenal dengan Sunan Gunung Djati, setelah mengalahkan penguasa Kalapa, Ratu Sangiang (adik Surawesesa).
Pada 1527 datanglah pasukan Portugis dibawah pimpinan Fransisco de Sa. Bantuan Portugis ini datang terlambat karena Fransisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Orang Portugis tidak mengetahui jika Suna Kalapa sudah dikuasai oleh Fatahillah. Pasukan Portugis turun dengan sekoci-sekocinya untuk merapat kepelabuhan sunda Kalapa dengan sekoci-sekoci.
Setelah merapat, mereka disergap oleh Fatahillah dan pasukannya. Namun, Fransisco de Sa berhasil melarikan diri karena dia tidak ikut turun bersama pasukannya. Setelah dikuasai sepenuhnya oleh Fatahillah, nama Sunda Kalapa diganti menjadi Jayakarta yang mengandung arti kemenangan atau kesejahteraan mutlak. ada juga yang menulis atau menggunakan Jayakarta atau Jakarta, kemudian umum disebut Jakarta.
Mengenai penggantian nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta hingga kini terdapat dua pendapat yang berbeda, yaitu menurut Prof. Mr. Dr. Soekanto dan Prof. Dr. P. A. Hosein Djajadiningrat. Menurut r. Soekanto, Fatahillah merebut Sunda Kalapa pada akhir Februari 1527. Beberapa hari kemudian datang armada Portugis dibawah pimpinan Fransisco de Sa yang bermaksud membangun benteng di Sunda Kalapa. Armada ini digempur oleh Fatahillah kira-kira pada pertengahan Maret 1527.
Dengan tercapainya kemenangan itu, maka setelah mempertimbangkan masak-masak dan berdasarkan penanggalan pranatamangsa (penanggalan yang hidup dikalangan rakyat dan berhubungan dengan pertanian), Fatahillah mungkin sekali memilih tanggal 1 prantamangsa sebagai hari untuk mengganti nama Sunda Kalapa dengan nama Jayakarta. Tanggal 1 pranatamangsa tersebut menurut penanggalan Masehi jatuh pada 22 Juni 1527. Seperti yang sudah dikemukakan diatas, arti Jayakarta adalah kemenangan penuh Fatahillah terhadap orang-orang Portugis, musuh yang sangat dibenci oleh orang Islam pada masa itu.
Sanggahan terhadap pendapat Dr. Soekanto dikemukakan oleh Prof. Hoesein Djajadiningrat. Menurutnya, berdasarkan sumber dari penulis sejarah bangsa Eropa, armada Fransisco de Sa berangkat dari Malaka menuju Sunda Kalapa pada 23 Oktober 1526. Pada Desember 1526 ketika perayaan Natal di Cochhij (India), diperoleh kabar bahwa rombongan itu telah kembali pada akhir Desember 1526, Fransisco de Sa bertolak ke India.
Berdasarkan hal tersebut, Prof. Hoesein Djadiningrat berpendapat jatuhnya Sunda Kalapa terjadi pada Desember 1526. Jika jatuhnya Sunda Kalapa ke tangan Fatahillah bertepatan dengan hari raya atau hari peringatan Islam, maka dapat diduga bahwa hari raya Islam yang paling dekat di akhir Desember 1526 adalah Hari Maulud 12 Rabiulawal 933 Hijriah yang jatuh pada senin, 17 Desember 1526.
Besar kemungkinan Fatahillah merenungkan kemenangannya, ia teringat kepada kemenangan Muhammad yang terpenting, yaitu merebut Kota Makkah dan teringat pula kepada ayat pertama dari surat Al-Fath yang berbunyi "Inna Fatahna laka Fathan Mubinan" (sesungguhnya kami telah memberikan kemenangan kepadamu kemenangan yang tegas).
Oleh Karena itu, fatahillah lalu mendapat ilham untuk menamai dirinya fathan (nama ini kemudian karenan salah dengar dan salah tulis, dijadikan falatehan oleh orang Portugis), sedangkan nama Sunda Kalapa lalu diganti dengan terjemahan kata Fathan mubinan yaitu, Jayakarta. Demikian dua pendapat mengenai penamaan dan penanggalan digantinya nama Sunda kalapa menjadi Jayakarta.
Batavia
Nama Jayakarta yang mengandung arti kejayaan dan kesejahteraan itu rupanya tidak memberi kenyataan seperti ketika Sunda Kalapa terkenal sebagai kota Pelabuhan yang ramai disinggahi kapa-kapal niaga, baik antarpulau maupun Internasional. Setelah dinamai Jayakarta justru pamornya semakin lama semakin kalah dengan Pelabuhan Banten.
Selama puluhan tahun pelabuhan Jayakarta lebih banyak dikenal sebagai pelabuhan nelayan dan jarang sekali disinggahi kapal niaga. Padahal beberapa komoditasnya, seperti beras, sayur mayur, buah-buahan, dan hewan ternak melimpah, harga murah, sebagaimana diberitakan oelh Jan Huygen van Linscehoten[1 ] dalam Itinerario.
Jayakarta adalah bagian wilayah Kesultanan Banten. Sultan Maulana Hasanuddin menganggkat menantunya, Tubagus Angke, sebagai penguasa Jayakarta. Pada 1601, Tubagus Angke wafat. Jabatannya sebagai penguasa Jayakarta diteruskan oleh putranya, Pangeran Jayakarta Wijayakrama yang lebih dikenal sebagai Pangeran Jayakarta atau Pangeran Jakarta.
Sebagaki kepala daerah yang berjiawa muda, Pangeran Jayakarta Wijayakrama jauh lebih berani mengambil keputusan dan tindakan dibandingkan dengan ayahnya untuk kemajuan Jayakarta. Dia berani membuat persetujuan dengan persukuan dagang asing. Mula-mula dengan orang-orang Inggris, kemudian dengan orang-orang Belanda.
Ceritanya selanjutnya adalah jatuhnya Jayakarta ke tangan VOC dan namaya kemudian diganti menjadi Batavia. Nama-nama tempat dan jalan yang diberikan akan ditetapkan pada zaman kolonial, dari masa pemerintahan VOC sampai masa awal pemerintahan kolonial Hindia Belanda, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, nama-nama tempat dan jalan yang berasal dari bahsa Belanda, seperti Batavia sebagai nama kota dan Oranje Boulevaard (sekarang jalan Dipenegoro) sebagai nama jalan. Kedua, nama-nama tempat yang berasal dari bahasa Pribumi, contohnya Cililitan, Marunda, dan Menteng.
Jakarta
Pada masa pendudukan tentara Jepang, nama Jakarta dihidupkan kembali. Hal itu diumumkan dan Kang Po (Berita pemerintah bala tentara Jepang) No. 9 thn. I bulan 12 tanggal 8 Desember 1942 untuk waktu yang tidak terbatas.
Sumber:
[1] Jan Huygen van Linschehoten adalah pelau Belanda pertama yang mengetahui rahasia rute pelayaran orang-orang Portugis ke Asia Timur (diketik dari buku "ASAL USUL NAMA TEMPAT di JAKARTA dengan penulis Rachmat Ruchiat")
Thursday, 1 November 2018
SEKILAS RIWAYAT DARI KELAPA SAMPAI JAKARTA
Thursday, 18 October 2018
JENIS SASTRA ANAK
Fiksi fantasi merupakan cerita khayal yang terdiri dari beberapa jenis seperti cerita bervariasi da cerita fantasi. Cerita bervariasi itu memiliki persamaan dan perbedaan dan perbedaan da berakar dari cerita terdahulu, yaitu cerita rakyat, legenda, mitos, da cerita-certa kemanusiaan lainnya. Cerita fantasi memiliki beberapa jenis dan variasi
Perbedaan Bacaan Fiksi dan Non Fiksi
Fiksi adalah cerita imajinatif yang tidak (harus) mempunyai kebenaran faktual.
Non fiksi mempunyai kebenaran faktul
Bacaan Non Fiksi yang dikemas sebagaimana cerita fiksi akan menjadi bacaan menarik seperti cerita fiksi dan akan disukai oleh anak.
Persamaan Bacaan fiksi dan Non Fiksi yaitu keduanya sama-sama memberikan informasi dan manampilkan cerita.
Sastrakah Teks Non Fiksi itu?
- Jika sastra dibatasi berbagi teks kreatif imajinatif yang tidak menunjukkan pada kebenaran faktual historis maka teks non fiksi bukan termasuk teks kesastraan.
- Jika teks kesastraan dipahami secara luas, yaitu berbagai teks yang mempunyai kadar artistik tinggi dengan memperhitungkan pencapaian efek estetik (pemilih stile tepat), maka teks non fiksi yag ditulis dengan stile tersebut dapat dikategorikan sebagai bagian dari sastra anak (luken, 2003:28)
- Teks nonfiksi dengan efek keartistikan dapat memberikan aspek emosional dan intelektual.
- Tokoh adalah pelaku yang dikisahkan dalam cerita
- Alur Cerita bisa disebut juga Plot atau jalan Cerita. Pengertian lain dari Alur Cerita adalah rangkaian peristiwa yang terjadi berdasarkan hubungan seba dan akibat.
- Latar dapat diartikan sebagai landas tumpu berlangsungnya berbagai peristiwa dan kisah dalam cerita.
- Tema dapat diartikan sebagai gagasan yang mengikat cerita atau sering disebut juga makna cerita.
- Moral dapat dikatakan sebagai amanat atau pesan. Pengertian Moral adalah sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca (bermanfaat dan mendidik)
- Sudut Pandang adalah cara sebuah cerita dikisahkah
- Stile merupakan pilihan berbagai aspek kebahasan yang digunakan dalam teks kesastraan.
- Nada sesuatu yag terbentuk sebagai konsekuensi pilihan stile
- Puisi merupakan sebuah jenis sastra yag sngat memperhatikan pilihan aspek kebahasaan untuk memperoleh efek keindahan. Unsur pembentuk puisi adalah isi dan bentuk.
- Unsur isi pada Puisi anak antara lain aspek gagasan, ide, emosi, tema, dan makna
- Unsur Bentuk pada puisi antara lain aspek kebahasaan dan tipografi.








